Teuku Markam, kisah penyumbang emas di tugu Monas yang bernasib tragis

Pada 12 Juli 1975, Monumen Nasional (Monas) yang berada di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat mulai diresmikan. Pada bagian puncaknya terdapat tugu api yang berkobar yang berlapis emas seberat 38 kg, versi lain menyebutkan kalau lapisan emas tersebut seberat 28 kg. 

Teuku Markam


Tidak banyak diketahui umum, bahwasanya emas yang terdapat di puncak tugu Monas ini adalah sumbangan dari seorang saudagar kaya asal Aceh yang bernama Teuku Markam. Meski hingga kini belum ada bukti yang bisa menjelaskan perihal tersebut, namun banyak orang yang meyakini bahwa Teuku Markam adalah orang yang telah menyumbangkan emasnya.

Sejarah Monas 

Monumen Nasional atau biasa disebut Monas adalah sebuah tugu peringatan atas kegigihan rakyat Indonesia ketika melawan pemerintah kolonialisme Hindia Belanda. Tugu ini didirikan di tahun yang bersamaan dengan diresmikannya gerakan Praja Muda Karana atau Pramuka. 

sejarah tugu monas

Pembangunannya sendiri dimulai pada hari jadi NKRI di tahun 1961 yang dikerjakan oleh P.N. Adhikarya sebagai kontraktor utamanya. Adapun tugu setingi 132 meter ini dirancang secara khusus oleh Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono. Pembangunannya sendiri selesai pada 12 Juli 1975 yang diresmikan ole Presiden yang berkuasa di saat itu. 

Siapakah Teuku Markam? 

Walaupun asal usulnya masih kurang jelas, namun beberapa sumber menyebutkan kalau Teuku Markam lahir di Aceh pada 1925. Semenjak berusia 9 tahun, dia sudah menjadi yatim piatu dan diurus oleh sang kakek yang bernama, Cut Nyak Putroe. 

Ketika muda, Teukur Markam pernah mengikuti program wajib militer dan dilatih menjadi seorang prajurit. Dia bahkan pernah menjadi ajudan Jendral Gator Subroto ketika diutus ke Bandung. 

Pada tahun 1957, Teukur Markam sudah berpangkat Kapten, dan tak lama kemudian dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Banda Aceh dan mulai mendirikan perusahaan bernama PT. Karkam. Pemerintah saat itu memercayai perusahaan ini untuk mengelola rampasan perang. Untuk lebih fokus pada perusahaan itu, Teuku Markam kemudian berhenti dari prajurit. 

Selain itu, dia juga melakukan bisnis ekspor-impornya yang lain seperti mobil Toyota dari Jepang, beton, baja, dan termasuk pula senjata. Berkat usahanya itu, Teuku Markam menjadi konglomerat paling kaya raya di Indonesia pada saat itu. 

Teuku Markam juga dikenal dekat dengan Presiden Sukarno. Dia sudah berjasa cukup banyak bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Namun, malangnya, seiring perjalanan bangsa ini, jasa Teuku Markam seolah dilupakan oleh pemerintah.

Dia pernah difitnah sebagai anggota PKI dan juga koruptor. Atas tuduhan tersebut, Teuku Markam dimasukkan ke dalam sel tahanan tanpa ada proses pengadilan. Beberapa kali dia dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya. 

Tahun 1972, Teuku Markam jatuh sakit lalu dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama dua tahun. Penderitaannya semakin bertambah ketika harta milik PT Karkam disita oleh negara oleh Pemerintahan Orde Baru. 

Sejak saat itu, Teuku Markam hidup dalam kesengsaraan hingga hari tuanya. Anak-anaknya pun turut menderita, bahkan ada yang sampai depresi. Setelah beberapa kali pergantian pemerintahan pun, jasa-jasa Teuku Markam seolah hilang begitu saja. 

Dari berbagai sumber


Powered by Blogger.