Cinta segitiga Ratu Harisbaya yang picu konflik Sumedang - Cirebon

Harisbaya adalah istri kedua Panembahan Ratu, sang penguasa Cirebon yang bertahta pada 1568-1649. Cinta segitiga yang terjadi antara Ratu Harisbaya dengan Raja Sumedang memicu peperangan di antara kedua kerajaan sunda tersebut. 


mahkota pajajaran


Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Kerajaan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon adalah dua kerajaan yang saling memegang erat ikatan kekerabatan. Bahkan Sumedang pernah menggabungkan diri dengan Cirebon dan hidup rukun selama 55 tahun. Akan tetapi, kemesraan dua kerajaan Sunda itu mulai retak oleh cinta segitiga sang Ratu Cirebon. 

Drama ini dimulai sejak Raja Sumedang, Prabu Geusan Ulun (1578-1619) berkunjung ke Cirebon dalam perjalanan pulangnya dari Kesultanan Panjang di Kartasura, tidak jauh dari Solo. Di Kraton Kesultanan Cirebon, Geusan Ulun berjumpa dengan Ratu Harisbaya yang konon pernah menjadi kekasihnya. 

Pertemuan itu pun membangkitkan kembali perasaan cinta dalam lubuk hati Harisbaya. Sejak itu, Cinta lama pun bersemi kembali walaupun terlarang. Pada suatu hari, Harisbaya dengan diam-diam menemui Geusan Ulun dan memintanya agar membawanya kabur meski ia masih merupakan istri sah dari sang Panembahan Ratu. 

Prabu dari Kerajaan Sumedang Larang itu pun mengiyakan permintaan dari "sang mantan". Harisbaya kemudian dilarikan ke Sumedang yang tentu saja memicu kemarahan Panembahan Ratu. Tanpa menunggu waktu yang lebih lama, ia pun mengirimkan pasukannya untuk menyerbu Sumedang. 

Perang saudara di antara dua kerajaan Sunda itu pun terjadi. Kelak, polemik ini usai dengan perjanjian damai walaupun Sumedang Larang pada akhirnya bertekuk lutut kepada Kesultanan Mataram Islam, kerajaan Jawa penerus Pajang pada 1620. 

Kisah cinta segitiga tersebut telah diceritakan oleh berbagai sumber, baik yang bersifat tradisional seperti Babad Sumedang, Babad Cirebon, hingga Babad Limbangan, termasuk juga dari catatan para peneliti dari Eropa seperti Petrus de Roo de la Faille, Theodore van Deventer, H.J. de Graaf, Th.G.Pigeaud, dan lain-lainnya. 

Sumedang Larang 

Sumedang Larang merupakan sebuah kerajaan kecil yang bernaung di bawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Sebagai pemimpinnya, Prabu Geusan Ulun mendapatkan gelar Angkawijaya dari Raja Pajajaran yaitu Raga Mulya Suryakancana (1567-1579). 

Sumedang Larang


Kerajaan Sumedang Larang adalah kerajaan Islam. Geusan Ulun sendiri merupakan akan dari Pangeran Santri dengan Ratu Setyasih, putri penguasa Sumedang sebelum 1530. Pada awalnya, Pangeran Santri datang ke Sumedang untuk menyebarkan Islam serta mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Kesultanan Cirebon. 

Bersama istrinya, Pangeran Santri memimpin Sumedang Larang. Setelah wafat, tahta kerajaan kemudian diteruskan oleh Geusan Ulun pada 1578. 

Baru memerintah selama satu tahun di Sumedang, Kerajaan Pajajaran hancur akibat serangan dari Kesultanan Banten (1579). Di tengah-tengah kekacauan itu, Prabu Geusan Ulun mendeklarasikan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Pakuan Pajajaran*. 

Baca lagi: Gunung Gadung, saksi bisu hancurnya Keraton Pakuan Pajajaran

Klaim tersebut terus mendapatkan dukungan, apalagi Geusan Ulung dianggap masih merupakan keturunan para Prabu Siliwangi yang berkuasa pada 1480 sampai  dengan 1521. Dengan begitu, Geusan Ulun dipercaya memiliki hak untk memimpin bekas wilayah Kerajaan Pajajaran yang meliputi seluruh tatar Pasundan, kecuali yang sudah dikuasai oleh Kesultanan Banten dan Cirebon. 

Awal mula pertemuan Geusan Ulun dan Harisbaya 

Alkisah, Geusan Ulun masih berstatus pangeran, putra mahkota kerajaan kecil di pedalaman Sunda yang dikirim oleh ayahnya, Pangeran Santri untuk mempelajari agama Islam di Kesultanan Pajang, dan juga ilmu tata negara. 

Dalam buku Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa karya Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa semasa berada di Pajang, Geusan Ulun bertemu dengan Harisbaya, seorang putri nan cantik jelita berdarah ningrat Mataram yang berasal dari Madura. Keduanya kemudian menjalin hubungan asmara. 

Lima tahun menetap di Pajang, Geusan Ulun harus kembali pulang ke Sumedang Larang untuk meneruskan pemerintahan ayahnya. Jalinan asmara yang terjadi antara Geusan Ulun dan Harisbaya pun berakhir tanpa kejelasan. Apalagi saat itu, Harisbaya akan dinikahkan dengan Panembahan Ratu, penguasa Kerajaan Cirebon yang juga menantu Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. Jadi dengan kata lain, Harisbaya akan menjadi istri kedua Panembahan Ratu. 

Tujuh tahun setelah Geusan Ulun dinobatkan menjadi Raja di Kerajaan Sumedang Larang, ia kembali bersua dengan mantannya yang sudah menjadi istri sah Panembahan Ratu. Dari situlah, cinta lama bersemi kembali yang pada akhirnya memicu perang antara Kesultanan Cirebon dengan Sumedang Larang. 

Versi lain 

Dalam buku Arkeologi Islam Nusantara karya Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa pertemuan keduanya terjadi ketika Geusan Ulun sedang singgah ke Kraton Cirebon dalam perjalanan pulang dari Demak (atau Pajang).

Dikisahkan pula bahwa Ketika melihat ketampanan Geusan Ulun,  Harisbaya seketika langsung jatuh hati. Harisbaya disebutkan tidak mencintai Panembahan Ratu yang berusia lebih tua darinya. Terbutakan oleh Cinta, Harisbaya memohon kepada Geusan Ulun untuk bersedia membawanya ke Sumedang. 

Gayung bersambut, secara diam-diam Geusan Ulun membawa kabur Harisbaya yang saat itu sedang mengandung. Kelak setelah lahir, bayi tersebut diberi nama Raden Suriadiwangsa yang oleh Geusan Ulun dianggap sebagai anak sendiri, bahkan kelak akan melanjutkan pemerintahan di Sumedang Larang. 

Terlepas dari dua versi yang berbeda itu, Panembahan Ratu yang tahu istrinya dibawa kabur Geusan Ulun pun murka. Ia pun segera memerintahkan pasukannya untuk menyerbu Sumedang. 

Dalam peperangan tersebut, Panembahan Ratu mengerahkan lebih dari 2.000 prajurit untuk menyerang Sumedang. Sedangkan pasukan Sumedng dengan gagah berani menghadapi serangan tersebut dibawah komandi Jayaperkasa, mantan panglima dari Kerajaan Pajajaran yang menyatakan ikrarnya untuk setia kepada Prabu Geusan Ulun. 

Perang yang terjadi antara Sumedang dan Cirebon berlangsung selama empat hari empat malam yang kemudian menewaskan Jayaperkasa. Sebelum jatuh korban yang lebih besar lagi, kedua pihak kemudian sepakat untuk perjanjian damai. 

Sebagai syaratnya, Panembahan Ratu minta kepada Geusan Ulun untuk meyerahkan wilayah perbatasan antara Sumedang dan Cirebon, yaitu Majalengka. Seserahan itu juga dimaksukan sebagai pengganti talak Panembahan Ratu kepada Harisbaya ** 


Makam prabu geusan ulun di Dayeuh Luhur
Makam Prabu Geusan Ulun di Dayeuh Luhur

Makam ratu Harisbaya di Dayeuh Luhur
Makam Ratu Harisbaya di Dayeuh Luhur


Dikutip dari berbagai sumber

*Agus Arismunandar, ed., Widyasancaya, 2006:84
**(Edi S. Ekadjati, eds., Empat Sastrawan Sunda Lama, 1994:88).
Powered by Blogger.