Cerita rakyat Lutung Kasarung

Lutung kasarung yang berarti "lutung yang tersesat" adalah cerita pantung yang mengisahkan legenda di tatar Sunda yang menceritakan perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan yang diturunkan ek Buana Panca Tengah / Bumi dalam wujud seekor lutung (sejenis kera / monyet). 

Cerita rakyat Lutung Kasarung




Cerita rakyat Lutung Kasarung sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan di masa pemerintahan Hindia Belanda sempat dibuat menjadi film layar lebar yang diputar dari 13 Desember 1926 s/d 6 Januari 1927 di Bioskop Elite (Majestic). Selain itu, pada tahun 1921 cerita rakyat ini diangkat ke dalam gending karesmen, yaitu drama yang diiringi musik oleh R.A. Wiranatakusumah, Bupati Bandung. 

Pada tahun 1949, Lutung Kasarung dijadikan sebagai bahan disertasi oleh F.S.Ringa yang kemudian dibuatkan menjadi buku. Pada tahun 1950, cerita ini kemudian ditulis dalam bahasa Indnesia oleh seorang seniman Belanda Tilly Dalton yang kemudian menyumbangkan salinan bukunya kepada KITLV Leiden di Holland. 

lutung kasarung 1926


Lutung Kasarung adalah sebuah cerita rakyat yang berlatar sebuah kerajaan di tatar pasundan yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana yang bernama, Prabu Tapa Agung. Sang Prabu ini memiliki dua orang anak perempuan yang berparas jelita, Purbararang dan adiknya Purbasari. 

Pada suatu hari, menjelang akhir hayatnya, Raja Tapa Agung menunjuk Purbasari si putri bungsu sebagai penggantinya. "Abdi atos sepuh teuing, waktuna abdi turun tahta," kata sang Prabu yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah "Saya sudah terlalu tua, sudah waktunya untuk turun tahta,".

Namun rupanya, keinginan sang ayah untuk menjadikan Purbasari menggantikannya ditentang oleh sang kakak, yaitu Purbararang. "Aku putri sulung, harusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya.  

Kegeramannya yang memuncak ditambah oleh rasa dengki dan iri membuat Purbararang memliki niat untuk mencelekakan adiknya itu. Ia kemudian menemui nenek sihir untuk memantera-manterai Purbasari. Akibat mantera dari nenek sihir itu, kulit Purbasari yang tadinya halus dan bersih tiba-tiba menjadi bersisik dan penuh totol-totol hitam. Dengan kondisi tersebut, Purbararang memiliki alasan untuk mengusir adiknya. "Orang yang dikutuk sepeti dia, tidak pantas jadi seorang ratu!" kata Purbararang. 

Maka Purbararang menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Sesampainya di hutan, sang patih yang tidak tega itu kemudian membuatkan sebuah pondok untuk tempat berlindung  Purbasari dari panas dan hujan. "Tabahlah tuan putri, cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri." ujar sang Patih sebelum meninggalkan Purbasari. 

Selama tinggal di dalam hutan. Purbasari sudah mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kedanya. Di antara hewan-hewan itu, ada seekor kera berbulu hitam yang sangat misterius. Kera itu juga yang selalu menaruh perhatian pada sang Putri. Kera yang bernama Lutung Kasarung itu selalu menggemberikan Purbasari dengan membawakan bunga-bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya. 

Di malam bulan purnama, Lutung Kasarung tiba-tiba menunjukkan perilaku yang sangat aneh. Ia berjalan ke tempat sepi lalu bersemedi. Ia terlihat seperti sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Hal itu jelas menandakan bahwa Lutung Kasarung bukanlah sekedar kera biasa. Tidak lama kemudian, tanah di sekitar lutung bersemedi, merekah lalu terciptalah sebuah telaga kecil yang airnya sangat jernih dan harum. 

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Di akhr cerita, putri Purbasari pun menjadi seorang Ratu dengan didampingi oleh seorang pemuda idaman. Pemuda yang selama ini mendampinginya di hutan dalam wujud seekor lutung ... 

Powered by Blogger.