Wiro Sableng yang "mendunia"

Pada 1967, ketika dunia media dan hiburan masih sangat terbatas, Wiro Sableng muncul ke dunia menceritakan kisahnya yang konyol dan kadang cukup mencekam. Sejak itulah, serial silat karya almarhum Bastian Tito ini semakin disukai dan banyak ditunggu-tunggu kisahnya oleh penggemar setianya, terutama di era 1990-an. 


 Wiro Sableng yang "mendunia"


Sekilas tentang Wiro Sableng 


Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana, yang sejak bayi sudah digembleng oleh sang gurunya yang terkenal di dunia persilatan yaitu Sinto Gendeng. Ketika masih kecil, kampung tempat tinggal Wiro diserang oleh para penjahat yang juga telah membunuh kedua orangtuanya.Oleh Sinto Gendeng, Wiro kemudian diselamatkan yang kemudian diasuhnya seperti anaknya sendiri.

Seperti gurunya yang berperilaku agak "gendeng", perilaku Wiro pun kadang tak kalah konyolnya dengan sang guru sehingga diberilah dia julukan Wiro Sableng.

Selama dalam asuhan gurunya itu, Wiro dibekali dengan sebuah senjata sakti berupa kapak yang bernama Kapak Maut Naga Geni yang bertuliskan angka 212 di masing-masing matanya. Pada tubuh Wiro pun terdapat rajah 212 yang terlihat jelas di bagian dadanya.

Dalam "Empat Berewok dari Goa Sanggreng" disebutkan bahwa kapak itu terbuat dari logam dan gading. Ada tombol rahasia di gagang kapak tersebut yang jika ditekan akan mengeluarkan jarum-jarum beracun dari mulut kapak yang berukiran naga. Gagang kapaknya pun berbentuk seperti seruling yang jika ditiup akan mengeluarkan suara yang sangat dahsyat.

Musuh yang sebelumnya tak bisa dikalahkan oleh kesaktiannya yang lain akan langsung bertekuk lutut mendengar suaranya itu seperti "Dewi Siluman dari Bukit Tunggul" dan nenek Arashi dalam "Pendekar Gunung Fuji". Tebasan kapak naga geni akan mengeluarkan suara riuh seperti dengungan ribuan tawon. Selain tajam, kapak naga geni juga mengandung racun. Dalam "Tiga Setan Darah dan Cambuk Api Angin", si pendekar jahat meregang nyawa oleh racun ini setelah tangannya ditebas putus oleh Kapak Maut Naga Geni 212.

Selain kapak maut naga geni, senjata rahasia Wiro Sableng yang lain adalah sebuah batu hitam bertuliskan 212 yang jika diadu dengan kapak naga geni akan memercikkan semburan api besar yang sangat panas dengan kekuatan yang sangat tinggi. Namun karena kekuatannya yang sangat dahsyat itu, batu hitam 212 hampir tak pernah digunakan. Selain itu ada juga senjata rahasia berbentuk bintang bertuliskan angka 212, senjata ini lebih mirip shuriken yang biasa dipakai oleh para ninja. Senjata ini pernah digunakan dalam "Keris Tumbal Wilayuda" dan "Rahasia Lukisan Telanjang".

Selain dibekali dengan senjata sakti, Wiro Sableng juga mempunyai beberapa jurus-jurus sakti seperti pukulan harimau dewa, pukulan sinar matahari, pukulan angin es, pukulan angin puyuh, jurus kunyuk melempar buah, ilmu silat orang gila, pukulan dewa topan menggusur gunung, pukulan dinding angin berhembus tindih-menindih, jurus pendekar pedang akhirat, dan lain sebagainya.

Makna 212 


Kebesaran Wiro Sableng tidak terlepas dari angka 212 yang terukir di setiap senjata dan bagian tubuhnya. Angka tersebut bukan sembarang angka melainkan sebuah filosofi hidup yang harus selalu dipegang teguh oleh Wira Saksana alias Wiro Sableng. 

212

212 adalah sebuah filosofi bahwa di antara semua yang berpasangan dan duniawi, harus selalu ingat pada angka satu yaitu sang pencipta (Tuhannya). Dalam serial silat ini, Wiro Sableng digambarkan sebagai seorang pengembara yang mencari pemahaman tentang keesaan dan pencarian jati diri.

Wiro ditampilkan tak sempurna amat, ia bukanlah seorang pendekar yang benar-benar lurus dan sesuai namanya, Wiro lebih banyak bertingkah konyol, cengengesan, dan terkadang sangat emosional. Wajahnya pun tidak ganteng-ganteng amat, tapi ia memiliki pesona yang menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ditemuinya dalam pengembaraannya.


Bastian Tito "Sang pencipta"

Wiro Sableng lahir dari karya besar Bastian Tito (1945 - 2006). Bastian mulai menulis sejak kelas 3 SD. Dia mulai menerbitkan karya-karyanya menjadi buku pada tahun 1964, dan tiga tahun kemudian, Wiro Sableng lahir dalam bentuk cerita silat. Cerita silat Wiro Sableng terdiri dari 191 Jilid, yaitu 185 jilid ditulis oleh Bastian Tito sendiri, dan sisanya dilanjutkan oleh penulis bernama Mike Simons setelah Bastian meninggal dunia pada 2 Januari 2006. 


 Wiro Sableng yang "mendunia"

Cerita silat Wiro Sableng memang kerap dianggap remeh dan bukan termasuk karya sastra yang banyak dikaji secara akademik, tapi tak bisa dipungkiri, cerita silat Wiro Sableng ini mempunyai banyak penggemar setianya. Bahkan saking populernya, cerita tentang kesablengan Wiro Sableng diangkat ke layar kaca dan layar lebar.

Tercatat, ada tiga orang aktor yang pernah berperan sebagai Wiro Sableng yaitu Tony Hidayat, Herning "Ken Ken" Sukendro, dan Abhie Cancer. Dari ketiganya, Ken Ken adalah yang paling ikonik khususnya ketka sinetron Wiro Sableng yang tayang sejak 1995 itu turut mendongkrak popularitasnya di mata remaja dan generasi 1990an.

Di akhir tahun 2017 kemarin, jagad sosial media kini diramaikan oleh tagar #SiapSableng dan #wirosableng2018 setelah munculnya cuplikan perdana film layar lebar Wiro Sableng terbaru yang diproduksi LifeLike Pictures dan 20th Century Fox. Film yang akan tayang di tahun 2018 ini, dibintangi oleh Vino G. Bastian yang adalah juga anak dari Bastian Tito si pencipta Wiro Sableng itu sendiri.

Trailer Wiro Sableng 2018



Powered by Blogger.