Babad Tanah Pakuan (bag 2)

Tidak lama setelah menyampaikan pidato perpisahan / wangsit siliwangi oleh Prabu Raga Mulya. Para pengikutnya saling bertatap muka satu sama lainnya, mereka mulai berkomunikasi antar masing-masing dan membentuk empat kelompok massa. Tiga kelompok segera memohon pamit kepada sang Prabu untuk bergerak ke utara, barat, dan timur. Sedangkan sisanya yang sebagian besar tetap bertahan dengan Raja untuk bergerak ke arah selatan.


Peta Sejarah Pakuan Pajajaran



Di lain pihak, pasukan Banten masih terus melakukan pengejaran. Target mereka tentu saja mengejar keluarga raja yang bergerak ke selatan. Pertempuran demi pertempuran terjadi di sepanjang jalan. Para prajurit kerajaan menggunakan taktik bertempur sampai mati untuk menahan laju musuh guna memberi kesempatan kelompok inti raja bergerak menjauh. Di sisi lainnya, kelompok inti raja pun memecah diri dalam beberapa kelompok kecil untuk memecah konsentrasi musuh. 

Di antara pecahan kelompok itu, ada yang hanya beranggotakan tiga orang saja yaitu Nyi Purnamasari yang ditemani oleh Rahyang Kumbang Bagus Setra dan Rakean Kalang Sunda. Ketiganya itulah yang kemudian diburu oleh Jaya Antea.


Kisah cinta dan penghianatan 

Sebelum melanjutkan kisah pertempuran mereka, mari kita cari tahu dahulu apa latar yang membelakangi peristiwa penyerbuan pasukan Banten ke Pakuan Pajajaran. Dari cerita yang banyak beredar, salah satu versi yang cukup banyak digunakan adalah tentang kisah cinta, penghianatan, dan perbedaan keyakinan.  

Nyai Purnamasari adalah putri sulung dari istri ketujuh Prabu Sedah Raga Mulya Suryakancana yang berjuluk Siliwangi V. Konon Putri Purnamasari mempunyai kecantikan yang sanggup menarik perhatian banyak pangeran dan bangsawan. Dua orang yang sangat berhasrat ingin memperistri sang putri adalah Jaya Antea yang saat itu masih menjabat sebagai Mantri Majeuti (semacam Sekretaris Negara) dan Rahyang Kumbang Bagus Setra seorang pangeran dari Pajajaran Girang yaitu kerajaan yang berada di bawah Pajajaran.


Ilustrasi


Namun tampaknya, Nyi Purnamasari lebih memilih sang pangeran dari Pajajaran Girang ketimbang Jaya Antea. Merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, Jaya Antea memilih mundur dari jabatannya sebagai Mantri Majeuti, lalu secara diam-diam mulai bergabung dengan komunitas Islam yang mulai berkembang di daerah Banten. 

Jaya Antea adalah orang yang sangat pintar, ia tahu betul bahwa kelak Banten akan menjadi calon penguasa baru di tanah pasundan, apalagi Islam pada masa itu sudah berkembang demikian pesatnya mulai dari timur hingga ke barat Pajajaran. Setelah masuk Islam, Jaya Antea kemudian berganti nama menjadi Al Qowana dan tak lama kemudian menunaikan ibadah haji. 

Sepulangnya dari ibadah haji, Jaya Antea pergi menghadap Sultan Maulana Yusuf di Kesultanan Banten. Kepada sang Sultan, ia mengaku sebagai Prabu Anom putra mahkota Pajajaran yang bernama Rahyang Santang Aria Cakrabuana. Sangat ganjil emang, tapi antara Jaya Antea dan Prabu Anom memiliki kemiripan, sehingga banyak orang akan sulit membedakan keduanya kecuali orang yang benar-benar telah mengenal dekat. Di hadapan Sultan, Jaya Antea mengaku telah masuk Islam dan telah berhaji lalu meminta dukungan dan pasukan untuk mengislamkan Pajajaran yang disebutnya masih kafir. 

Sultan yang terpedaya akhirnya memberikan restu, apalagi sudah dua kali pasukan Banten diperdaya oleh Pajajaran. Setelah mendapat restu dan sejumlah pasukan, Jaya Ante segera menyusun strategi untuk merebut Pakuan. 

Sebagai bekas orang dalam (Mantri), Jaya Antea tentu bisa dengan leluasa keluar masuk kawasan istana Pakuan. Dia mengerti betul bahwa benteng Pakuan bukanlah dibuat oleh orang sembarangan. Benteng ini pertama kali dibangun oleh Prabu Banga, Raja Sunda Kuno di masa Sunda Galuh, yang kemudian disempurnakan oleh Sri Baduga Maharaja dengan campuran teknologi benteng ala Portugis. 

Di dalam kawasan keraton Jaya Antea mengamati daerah sekelilingnya, dan sampailah ia di pintu gerbang yang bernama Lawang Gintung. Di sini ia berkesimpulan bahwa jika pasukannya bisa masuk dari Lawang Gintung maka mereka akan bisa dengan mudah menguasai Pakuan. 

Betul saja, pada hari yang sudah direncanakan ( 8 Mei 1579 ) mereka dengan mudah bisa menyusup melalui Lawang Gintung setelah membunuh para penjaga. Karena serbuan dilakukan pada malam hari, maka mereka dengan mudah menyerang dan membumihanguskan lima keraton Pakuan yaitu Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. 


- oo -

Kembali ke Nyi Purnamasari dan para santana yang kini telah sampai di daerah yang bernama Gunung Gadung. Dari atas bukit di Gunung Gadung, ketiganya bisa menyaksikan bagaimana api yang dengan lahapnya membakar habis panca persada (lima keraton) dengan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Kalau dilihat pada kondisi sekarang pun, kita masih bisa melihat daerah Batu Tulis dari kejauhan di atas bukit Gunung Gadung. 


Daerah Gunung Gadung yang berhadapan dengan lokasi situs Batu Tulis. Inset: Lokasi yang diduga sebagai tempat Keraton Pakuan dalam buku Kabudayaan Sunda Zaman Pajajaran


Dari Gunung Gadung ketiganya terus bergerak ke arah selatan sambil tetap dibuntuti oleh Jaya Antea. Pelarian yang disertai pertempuran membawa mereka hingga ke sebuah daerah yang bernama Bantargadung

Epik tentang cinta, penghianatan, keyakinan, dendam, dan peperangan terus berlanjut. Di daerah Pantai Selatan, Jaya Antea berhasil mengalahkan  dan membunuh Kumbang Bagus Setra, namun di daerah itu juga, Jaya Antea tewas di tangan Ki Kalang Sunda. Tempat pertempuran orang-orang sakti Pajajaran itu kini dikenal dengan nama Jayanti.  

Kisah runtuhnya Pajajaran diwarnai dengan aroma cinta segitiga, penghiantan seorang punggawa terhadap negaranya, perbedaan keyakinan, dan pertempuran sampai akhir. Tapi tentu kurang bijaksana kalau menyebut runtuhnya kerajaan Sunda itu disebabkan oleh hal-hal tersebut, karena sepeninggal Sri Baduga Maharaja, tidak ada lagi raja yang setangguh dan sekharismatik beliau. 

Sebelum Prabu Suryakancana bertahta, Pakuan tengah ditinggalkan oleh banyak penduduknya. Banyak rakyat yang menderita kelaparan, sedangkan Raja Nilakendra bersikap abai dengan apa yang terjadi di dalam kerajaannya. Dia lebih mementingkan urusan kebatinan dan mempermegah istana di antaranya adalah membangun taman dengan jalur-jalur berbatu (dibalay) mengapit gerbang larangan, lalu membangun rumah-rumah keramat sebanyak 17 baris yang ditulisi dengan bermacam-macam kisah dari emas.



Setelah Prabu Sedah Raga Mulya Suryakancana bertahta pun tidak mampu membawa perubahan. Apalagi ditambah dengan kisah cinta, penghianatan, perbedaan keyakinan, dan pertempuran yang pada akhirnya menutup kisah Pakuan untuk selama-lamanya. 

Referensi: 
Sejarah Bogor
Inilah Sukabumi 




Powered by Blogger.