Ini yang perlu anda tahu tentang Super Blue Blood Moon

Jika kondisi cuaca cerah, maka hari Rabu Malam nanti (31/01) anda bisa menyaksikan fenomena alam yang paling memesona yang disebut super blue blood moon. Menghadapi fenomena alam tersebut, inilah beberapa hal yang perlu anda tahu seputar super blue blood moon

 Super Blue Blood Moon



Disebut fenomena super blue blood moon adalah karna peristiwa tersebut merupakan gabungan dari tiga fenomena Bulan sekaligus, yaitu; 

  1. Super moon, yaitu ketika Bulan berada dalam jarak yang paling dekat dengan Bumi (perigee) sehingga akan terlihat 14% lebih besar dan 30% lebih terang dari biasanya. 
  2. Blue moon, yaitu sebuah julukan bagi purnama yang muncul kedua kalinya dalam satu bulan kalender. 
  3. Gerhana Bulan, yaitu ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada garis sejajar. Pada saat itu, Bulan akan tertutupi bayangan Bumi yang membuatnya berwarna merah seperti darah sehingga disebut Blood moon. 

Nah, fenomena alam yang sangat istimewa itu tentu tidak akan anda lewatkan begitu saja bukan?  Apalagi terjadinya tiga fenomena ini secara bersamaan adalah kejadian langka yang terakhir kalinya pernah terjadi pada 152 tahun yang lalu. 


Super Blue Blood Moon

Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional / LAPAN, gerhana bulan akan terjadi pada pukul 18:48 WIB dan akan mencapai puncaknya pada pukul 20:30 WIB. Gerhana ini juga diperkirakan akan berlangsung selama empat jam. 

Fenomena menarik ini akan bisa diamati di seluruh wilayah Indonesa dan sebagian besar permukaan bumi. Masyarakat yang berada di Pulau Jawa bagian Timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua dan sekitarnya dapat menyaksikan seluruh tahapan gerhana, sedangkan sisanya hanya bisa melihat fase total dan parsial saja. Adapun mereka yang berada di Amerika Selatan dan Afrika tidak akan bisa melihatnya sama sekali. 

Berbeda dengan fenomena gerhana matahari total, fenomena Super Blue Blood Moon bisa diamati tanpa menggunakan teropong atau kaca pelindung, karena bisa dilihat dengan mata telanjang. Bulan purnama akan terlihat berwarna merah dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya. 

Menurut kepala Lapan Thomas Djamaluddin, pada 31 Januari efek Bulan purnama terhadap Bumi akan jauh lebih kuat dari biasanya.

Gravitasi bulan dan matahari memengaruhi pasang air laut. Ketika terjadi gerhana bulan - yang mana posisi Bumi berada di tengah matahari dan bulan - ditambah jarak bulan yang sangat dekat dengan bumi, pasang air laut akan mencapai maksimum.

Dampak ini dapat dirasakan di daerah pantai yang landai, seperti di beberapa daerah di pantai utara Jawa. "Jika terjadi cuaca buruk di laut yang menimbulkan gelombang tinggi, banjir rob akan melimpas semakin jauh ke daratan," kata Thomas.

Ia menambahkan, dampak lainnya yaitu jika terjadi banjir akibat hujan lebat di daratan, banjir akan lama surutnya karena dampak pasang maksimum.

Bagi para ilmuwan di badan antariksa Amerika Serikat NASA, gerhana pada 31 Januari menjadi kesempatan untuk mengamati apa yang terjadi ketika permukaan Bulan mendingin dengan cepat.

Ketika gerhana bulan, penurunan temperaturnya begitu drastis seakan-akan permukaan Bulan berubah dari sepanas oven menjadi sedingin freezer hanya dalam beberapa jam.


Ini yang perlu anda tahu tentang Super Blue Blood Moon

Hasil pengamatan dalam kondisi ini akan membantu mereka memahami karakteristik regolit — yaitu campuran tanah dan batuan di permukaan Bulan — dan perubahannya dari waktu ke waktu.

Selama gerhana, para ilmuwan juga akan mengamati Bulan dengan menggunakan kamera termal, mempelajari wilayah yang biasanya tak terlihat.

Sementara di Indonesia, gerhana bulan lebih dijadikan sarana edukasi.

Lapan membuka fasilitasnya bagi masyarakat yang ingin melihat gerhana lewat teleskop di beberapa daerah antara lain Bandung, Sumedang, Garut, Pasuruan, Biak, Pontianak, dan Bukittinggi.

Di Jakarta, Planetarium Taman Ismail Marzuki dan Taman Mini Indonesia Indah juga akan khusus dibuka di malam gerhana.


Thomas mengatakan, dahulu gerhana bulan sering dimanfaatkan untuk penelitian kualitas udara; contohnya ketika gunung Tambora meletus pada 1815. Tapi sekarang para ilmuwan menggunakan metode lain yang lebih mangkus untuk mengukur kualitas udara global.

Sumber BBC





Powered by Blogger.