Inilah Jenis-Jenis Elang yang ada di Pulau Jawa

Pulau Jawa adalah habitat bagi beberapa spesies burung pemangsa besar seperti Elang yang kini terus mengalami penurunan populasi yang sangat signifikan. Selain hilangnya habitat, maraknya perburuan dan penangkapan beberpa jenis elang pun menjadi salah satu fakor penyebab terus menurunnya populasi elang di Pulau Jawa. Untuk mencintai alam, maka kita harus bisa mengenali apa saja jenis elang yang ada di sekitar kita. Untuk mengenali jenisnya tersebut, inilah jenis-jenis elang yang ada di Pulau Jawa.

Inilah Jenis-Jenis Elang yang ada di Pulau Jawa



Semua jenis elang mempunyai julukan sebagai burung pemangsa atau Birds of Prey. Makanan mereka sebagian besar adalah hewan hewan yang berukuran kecil hingga besar seperti tikus, kelinci, ikan, kadal, anak ayam, burung, serangga, sampai hewan yang berukuran lebih besar darinya. Pola makan mereka biasanya akan mengikuti habitat aslinya, misalnya elang yang tinggal di daerah berair seperti pinggiran sungai, rawa-rawa, danau, atau laut maka sebagian besar mereka akan menangkap ikan sebagai makanan utamanya. 

Indonesia sering menjadi tujuan migrasi dari burung-burung jenis raptor ini, dan memiliki sekitar 21 jenis elang yang memiliki penyebaran di seluruh Indonesia, dari 21 jenis burung tersebut 16 ekor diantaranya memiliki penyebaran di Pulau Jawa. Berikut 16 ekor burung raptor yang bisa ditemukan penyebarannya di seluruh wilayah di Pulau Jawa.

1. Elang Jawa 

Elang jawa (Spizatetus bartelsii) adalah spesies elang endemik di Pulau Jawa alias hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa saja. Spesies burung pemangsa ini termasuk jenis yang paling dilindungi di Indonesia oleh lantaran populasi mereka yang terus mengalami penurunan yang cukup tajam. 

elang jawa


Pada tahun 2010 saja, jumlah elang jawa yang tercatat hanya berjumlah 325 pasang yang sebagian tersebar Gunung Halimun Salak, Gunung Gede Pangrango, dan beberapa gunung berapi di pulau Jawa seperti Gunung Ciremai yang catatan terakhir memperkirakan hanya ada 5 pasang elang jawa di kawasan tersebut. 

Elang jawa identik dengan lambang negara kita yaitu Burung Garuda, dan sejak 1992 elang yang berpenampilan gagah ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. 

Ciri-ciri elang elang jawa adalah kepala berwarna coklat kemerahan dengan jambul hitam berujung putih yang terdir idari 2-4 helai bulu yang menonjol. Tengkuk coklat kekuningan dan tampak berkilau keemasan jika terkena cahaya. Sayap bulat dengan ujung yang menekuk sedikit ketika terbang. 

elang jawa dilindungi


Ketika berburu, elang jawa akan mencari mangsanya yang berupa tikus, kadal, tupai, bajing, ayam hutan, kelinci, dan hewan-hewan kecil lainnya. 

Elang jawa cukup disukai oleh para kolektor satwa langka, karena harganya yang sangat tinggi membuat jenis elang ini banyak diburu untuk diperjualbelikan. 


Untuk menjaga populasinya di alam, Badan konvensi perdagangan internasional (CITES) memasukkan elang jawa dalam daftar Appendix I yang berarti harus ada aturan ketat terkait perdagangan satwa langka ini. Pemerintah pun menetapkan elang jawa masuk dalam daftar burung dilindungi melalui keputusan Presiden No.4 Tahun 1993 dan mengukuhkan elang jawa sebagai wakil satwa langka dirgantara. 


2. Elang Brontok 

Elang brontok atau Changeable Hawk - eagle (Spizaetus cirrhatusmemiliki penampilan yang mirip dengan elang jawa, karena itu pula banyak orang yang sering salah mengidentifikasi dan mengganggap elang brontok sebagai elang jawa. 

elang brontok


Elang brontok memiliki ukuran sedang yaitu sekitar 60 sentimeter. Elang brontok terdiri dari banyak ras yang memiliki penampilan yang berlainan, diantaranya ada yang memiliki jambul ada juga yang tidak. Namun nasib elang brontok lebih beruntung dibanding saudaranya elang jawa, karena elang brontok ini memiliki penyebaran yang cukup luas dan menempati habitat yang lebih bervariasi sehingga populasi mereka masih aman.

Wilayah persebaran elang brontok ini pun tidak hanya berada di Indonesia saja, tetapi juga bisa ditemukan di Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Myanmar, Nepal, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam. Sedangkan penyebaran di Indonesia meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Ada lima sub-spesies dari elang brontok ini yang memiliki penyebaran di Indonesia, yaitu:
  1. Nisaetus cirrhatus limnaetus, tersebar di Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta di semenanjung Malaysia.
  2. Nisaetus cirrhatus cirrhatus, tersebar di Sumatra dan Kalimantan selain di India.
  3. Nisaetus cirrhatus floris, hanya ada di Flores dan Sumbawa
  4. Nisaetus cirrhatus vanheurni, tersebar di pulau Simeulue Sumatra
  5. Nisaetus cirrhatus andamanensis, tersebar di kepulauan Andaman
Tidak seperti elang jawa, populasi elang brontok dianggap masih aman sehingga BirdLife International dan IUCN memberi status elang brontok ini sebagai Least Concern atau Beresiko Rendah.

Namun begitu, semakin sempitnya habitat dan marakna perburuan untuk diperdagangkan menjadikan populasi elang brontok semakin menurun. Untuk menjaga kelestariannya, jenis elang ini dimasukkan dalam daftar jenis burung yang dilindungi. 


3. Elang Bondol 

Elang bondol atau Brahminy Kite (Haliastur indus) memiliki ukuran tubuh sedang yaitu sekitar 45 sentimeter. Elang ini sangat terkenal sebagai maskot DKI Jakarta, yang walaupun dianggap sebagai maskot dan gambarnya kerap muncul sebagai logo busway namun populasinya cukup mengenaskan. 

Elang Bondol


Elang bondol memiliki kemiripan dengan elang botak ( Bald eagle ) dari Amerika namun ukuran tubuhnya lebih kecil.  Elang bondol memiliki kemampuan hoovering sewaktu terbang yang membedakannya dengan jenis elang lainnya, sehingga elang ini dimasukkan dalam golongan 'Kite".

Ciri khas elang bondol adalah warnanya yang berwarna putih dan coklat terang. Burung dewasa memiliki kepala, leher dan bagian dada berwarna putih, sedangkan sayap, bagian perut dan punggung, serta ekornya berwarna coklat terang. Burung remaja memiliki tubuh berwarna kecoklatan dengan coretan pada dadanya. Pada tahun kedua warna tubuhnya akan beruba menjadi putih keabu-abuan, dan dakan mencapai bulu dewasa pada tahun ketiga.

Elang bondol lebih sering terlihat sendirian, namun dalam wilayah dengan makanan yang berlimpah elang-elang ini akan membentuk kelompok hingga 35 individu. Kebiasaannya adalah terbang rendah di atas permukaan air untuk mencari makanannya yang berupa ikan, udang, atau kepiting. 

Namun tak jarang pula mereka akan menyerang burung camar, dara laut, dan burung air besar lainnya yang terlihat membawa makanan untuk dirampasnya. Sedangkan di daratan elang bondol akan memangsa burung-burung kecil, anak ayam, serangga, dan mamalia kecil.

4. Elang Ular Bido 

Elang ular bido atau Crested sherpent-eagle (Spilornis cheela) memiliki tubuh berukuran sedang yaitu sekitar 50 - 60 sentimeter. Elang ini terkenal sangat berisik dan mudah dijumpai di semua ketinggian. Burung ini termasuk jenis burung yang adaptif , dan memiliki habitat yang beragam mulai dari hutan primer, hutan sekunder, perkebunan, hutan pantai, savanna, dan terkadang dilokasi yang dekat dengan perkampungan penduduk.

Elang Ular - Bido


Meski memiliki nama sebagai elang ular, namun pada kenyataannya elang ini tidak selalu memakan ular sebagai makanan utamanya, mereka juga memakan tikus, kadal, tupai, dan hewan-hewan kecil lainnya.

Elang ular bido bagi para pecinta burung pemangsa dikenal sebagai Crested Serpent Eagle atau CSE. Elang ini memiliki tubuh berwarna hitam dengan garis putih pada ujung belakang dari sayapnya. Jika terbang sayapnya akan menekuku ke atas dan ke depan, membentuk huruf C yang terlihat membusur.  Ciri khas lain yang bisa diperhatikan adalah kulit kuning tanpa bulu yang terdapat di sekitar mata hingga paruhnya.

Elang ular bido dikenal memiliki kulit yang memiliki kekebalan terhadap bisa ular, karena itu pula elang ini kemudian dinamakan dengan nama elang ular bido. Spesies elang ini cukup populer dijadikan hewan peliharaan.


5. Elang Hitam 

Elang hitam atau Indiana Black Eagle (Ictinaetus malayensismemiliki ukuran tubuh sedang yaitu sekitar 70 sentimeter, tetapi tubuhnya akan terlihat lebih besar ketika sedang terbang. Elang hitam dikenal sebagai elang yang pemberani dan memiliki kehandalan dalam bertarung yang membuat elang ini memiliki tingkat survival rate yang cukup tinggi.

Elang Hitam



Elang hitam berhabitat di ketinggian antara 300 - 2000 meter, dan termasuk jenis elang yang cukup umum dijumpai di hutan primer hingga perkebunan, dan terkadang sering terlihat memasuki pedesaan di pinggir hutan untuk mencuri anak ayam atau unggas peliharaan.

Sesuai namanya elang hitam memilik tubuh yang keseluruhannya berwarna hitam pekat, kecuali bagian ekor yang berwarna sedikit kecoklatan. Burung remaja memiliki corak garis seperti elang brontok. Spesies elang ini cukup populer dijadikan hewan peliharaan.


6. Elang Laut Perut Putih 

Elang laut perut putih atau White - bellied sea Eagle (Halieestus leucogaster) merupakan jenis elang yang memiliki ukuran sangat besar yaitu sekitar 70 - 85 sentimeter. Elang ini dijuluki pula sebagai raja lautan karena ukurannya yang cukup besar itu. Elang jenis ini tersebar di sepanjang pesisir pantai dan sering masuk ke hutan-hutan dataran rendah atau terkadang hidup juga di dataran yang tinggi.

Elang Laut Perut Putih



Ciri-ciri khasnya adalah ukuran tubuhnya yang besar dengan sayap yang panjang, kokoh dan lebar serta ekornya yang pendek membentuk baji. Warna tubuhnya dominan putih, dengan sayap yang membentuk pola hitam pada bagian atas dan hitam-putih pada bagian bawahnya. Burung remaja memiliki warna coklat pucat.


7. Elang Tiram

Elang tiram atau Osprey (Pandion halieestusmemiliki ukuran tubuh sedang yaitu sekitar 60 sentimeter. Meski bukan termasuk dalam keluarga acciptridae namun spesies ini dikenal sebagai Elang, padahal jenisnya sudah dipisahkan dalam kelompok keluarganya sendiri yaitu Pandinidae.

Elang Tiram


Ciri-ciri khasnya adalah warna bulu disekitar mata yang menyerupai topeng berwarna gelap. Punggung yang berwarna coklat gelap dan sisi bagian bawah tubuh putih dari dada hingga perutnya. Memiliki bentangan sayap yang lebar dengan ekor yang pendek. Burug muda memiliki tanda melintang pada bagian dada yang akan tampak ketika terbang.

Elang tiram memiliki penyebaran yang cukup luas dan hampir terdapat di seluruh dunia kecuali Antartika. Penyebaran elang tiram ini banyak terdapat di Afrotropial, Australasian, Indomalayan, Neartic, Neotropical, Oceanian, Palearctic, Amerika Utara, Afrika, dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia, elang jenis ini hampur terdapat di seluruh wilayah Indonesia.


8. Elang Ular Jari Pendek 

Elang ular jari pendek atau Short-toed snake-eagle  (Circaetus gallicusmemiliki tubuh berukuran besar yaitu sekitar 65 sentimeter. McKinnon dalam bukunya "Panduan Lapangan:Burun di Sumatera, Kalimantan, Jawa  dan Bali" menyebutkan spesies burung ini merupakan pengunjung musim dingin yang jarang terlihat dan langka. Pertemuan terbanyak ada di Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur.

Elang ular jari pendek



Ciri khasnya adalah memiliki tubuh yang kekar, dengan tubuh bagian atas berwarna coklat keabu-abuan, dan bagian bawah berwarna putih bercoret gelap. Burung remaja memiliki warna yang lebih kusam.

Elang jenis ini berhabitat di pinggiran hutan dan semak sekunder. kebiasannya adalah terbang melingkar lalu meluncur dengan sayap yang dibentangkan lurus dan datar. Bergerak seperti alap-alap raksasa, dan sering melayang-layang diam sembari mengepakkan sayapnya.


9. Elang Tikus 

Elang tikus atau Black-winged kite (Elanus caeruleus) memiliki ukuran tubuh sedang yaitu sekitar 30 - 45 sentimeter. Cara terbangnya cukup unik yang mirip dengan alap-alap, namun sayapnya lebih bulat dan matanya yang berwarna terang. Elang tikus tersebar di dataran rendah dan perbuktian hingga ketinggian 2000 meter.  Elang ini termasuk dalam golongan Kite yang memiliki kemampuan hovering.

Elang Tikus


Ciri khasnya adalah adanya bercak hitam pada bahu, dan bulu primre hitam yang panjang. Burung dewasa memiliki mahkota, punggung, sayap dan pangkal ekor berwarna abu-abu, sedangkan bagian bawah berwarna putih. Burung remaja memiliki corak berwarna kecoklatan.

Elang ini sering terlihat bertengger pada pohon mati atau tiang telepon, untuk memantau wilayah sekiranya dari keberadaan hewan-hewan buruannya seperti belalang, ular, tikur, atau burung muda.


10. Elang Alap Cina 

Elang alap cina atau Chinese goshwak (Accipiter soloensismerupakan burung pemangsa berukuran sedang, yaitu sekitar 33 sentimeter. Elang alap cina merupakan pengunjung yang tetap di Pulau Jawa, mereka sering terlihat berkelompok bersama Elang alap jepang pada waktu melakukan migrasinya. Penampilan keduanya bisa dengan mudah dibedakan.

 Elang Alap Cina


Burung dewasa memiliki tubuh bagian atas berwarna abu-abu kebiruan dengan ujung putih. Sedangkan tubuh bagian bawah berwarna putih dan terdapat sapuan warna merah karat yang samar pada bagian dadanya.

Pada musim dingin, elang alap cina akan mengunjungi daerah terbuka hingga ketinggian 900 meter di seluruh Sunda Besar. Secara rutin pula, setiap bulan Oktober, elang alap cina akan melewati kawasan Puncak, Bogor dan wilayah-wilayah di Bali Barat dalam jumlah yang cukup besar.


11. Elang Alap Jepang 

Elang alap jepang atau Japanese Sparrowhawk (Accipiter gularismerupakan burung jenis raptor yang bermigrasi dari belahan bumi bagian utara seperti halnya elang alap cina. 

Elang Alap Jepang


Umumnya berkunjung ke Indonesia pada bulan Oktober - September hingga Desember. Elang alap jepang merupakan burung yang cukup atraktif, lebih gesit dan lebih lincah dari 2 kerabatnya yaitu Elang alap besra dan Elang alap jambul.  Burung yang sering disebut juga sebagai elang alap nippon ini memiliki ukurang tubuh yang paling kecil yaitu sekitar 27 sentimeter.

Perbedaannya dengan elang alap ciba adalah tubuh bagian atas abu - abu, ekor abu - abu dengan beberapa garis melingkar gelap, dada dan perut merah karat pucat dengan setrip hitam sangat tipis di tengah dagu, setrip kumis tidak jelas. Betina: tubuh bagian atas coklat ( bukan abu - abu ), bagian bawah tanpa warna karat, bergaris - garis coklat melintang rapat. Dada remaja: lebih banyak coretan daripada garis - garis melintang dan lebih merah karat. Iris kuning sampai merah, paruh biru abu - abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning - hijau.

Berburu di sepanjang pinggir hutan, di atas hutan sekunder, dan daerah terbuka. Biasanya berburu dari tenggeran di pohon, tetapi kadang - kadang terbang berputar - putar untuk mengamati tanah di bawahnya dengan cara terbang “kepak - kepak - luncur” yang khas. Menyerang dengan agresif burung pendatang yang berusaha mendekati sarangnya.


12. Elang Alap Besra 

Elang alap besra atau Besra (Accipiter virgatusmemiliki tubuh berukuran sedang dan penampilan yang mirip dengan elang alap jepang, yang membedakan hanyalah ukurannya yang lebih besar. Elang alap besra merupakan jenis burung raptor penetap yang jarang dijumpai di Pulau Jawa.

Elang alap besra


Ukuran tubuhnya sekitar 33 sentimeter, memiliki kemiripan dengan elang alap jambul tetapi berukuran lebih kecil dan tidak memiliki jambul. Burung dewasa memiliki warna tubuh bagian atas berwarna abu-abu gelap dan ekor yang bergaris tebal, sedangkan tubuh bagian bawahnya berwarna putih dengan garis coklat melintang, dan strip kumis hitam.

Di habitatnya elang alap besra termasuk burung yang tenang, mereka akan duduk diam sambil menunggu mangsanya. Sering terlihat bertengger di pohon-pohon mati yang tinggi , dan terbang mengitari wilayah kekuasaannya secara reguler.


13. Elang Alap Jambul 

Elang alap jambul atau Crested Goshawk (Accipiter trivirgatusmemiliki penampilan yang mirip dengan elang alap besra dan juga elang alap jepang, yang membedakan adalah ukurannya yang besar yaitu sekitar 40 sentimeter dan memiliki jambul.

Elang Alap Jambul


Ciri khasnya adalah memiliki tubuh yang tegap dengan jambul yang tampak jelas. Burung dewasa memiliki tubuh bagian atas coklat abu - abu dengan garis - garis pada sayap dan ekor, tubuh bagian bawah merah karat, dada bercoretan hitam, ada garis - garis tebal hitam melintang pada perut dan paha yang putih.Lehernya putih dengan setrip hitam menurun ke arah tenggorokan dan ada dua setrip kumis.

Remaja dan betina : seperti jantan dewasa, tetapi coretan dan garis - garis melintang pada tubuh bagian bawah berwarna coklat serta tubuh bagian atas coklat lebih pucat.


14. Elang Ikan Kepala Abu 

Elang ikan kepala abu atau Grey-headed Fish Eagle (Ichthyophaga ichthyaetusmemiliki tubuh berukuran besar yaitu sekitar 70 sentimeter. Elang yang jarang terlihat ini memiliki penyebaran hanya di kawasan Jawa Barat, meski pernah tercatat perjumpaannya di Jawa Timur namun belum ada catatan terbaru mengenai hal tersebut.

Elang Ikan Kepala Abu


Ciri khasnya adalah sayapnya yang membulat yang membedakannya dengan elang laut perut putih. Burung dewasa pada bagian kepala dan leher abu - abu, dada coklat; sayap dan punggung coklat gelap; perut, paha, dan pangkal ekor putih; ujung ekor bergaris lebar hitam. 

Remaja: bagian atas coklat kekuningan, bagian bawah bercoret coklat dan putih; ekor coklat mengkilap dengan ujung bergaris hitam. Ekor pendek. Iris coklat sampai kuning, paruh dan sera abu - abu, tungkai tanpa bulu, dan kaki putih sampai kuning.

Elang ikan kepala abu ini sering mengunjungi daerah pertanian, sungai danau, dan paya yang terletak di hutan dataran rendah. Mereka akan menukik menerkam ikan sambil terbang atau dari posisi bertenggernya. Elang ini jarang terlihat terbang melayang-layang di udara.


15. Elang Perut Karat 

Elang perut karat atau Rufous - bellied Eagle (Hieraaetus kieneriimemiliki tubuh yang agak kecil dan jambul pendek yang cukup unik. Elang ini jarang terlihat di Pulau Jawa, namun merupakan penghuni tetap hingga ketinggian 1500 meter.

Elang Perut Karat


Ciri khasnya adalah memiliki bulu berwarna coklat kemerahan, hitam, dan putih, dengan jambul yang pendek. Burung dewasa memiliki mahkota, pipi, dan tubuh bagian bawah kehitaman; ekor coklat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu, tenggorokan, dan dada putih bercoret hitam; sisi tubuh, perut, paha, dan bagian bawah ekor coklat kemerahan dengan coretan hitam perut.

Kebiasaan elang ini adalam mendiami kawasan hutan yang berada di pinggir hutan, dan sering terlilhat berputar-putar atau meluncur rendah dari atas pohon. Sering terbang untuk mengitari teritorinya , lalu menyerang secara cepat mangsanya yang berada di permukaan tanah atau di tajuk pohon. Perilaku yang memiliki kemiripan dengan Peregrine falcon. 


16. Sikep Madu Asia 

Sikep madu asia dikenal juga dengan nama Oriental Honey Buzzard (Pernis ptilorhynchus) berasal dari belahan bumi bagian utara. Mereka umumnya akan mengunjungi Indonesia setiap bulan September - Desember, namun ada juga catatan ras penetap di Pulau Jawa. 

Sikep Madu Asia


Sikep madu asia memiliki tubuh berukuran sedang yaitu sekitar 60 sentimeter dengan kepalanya yang kecil dan panjang yang merupakan ciri khas dari Buzzard.  Dalam perjalanan migrasinya, sering kali terjadi konflik dengan elang-elang penetap lainnya seperti elang hitam.

Ciri khasnya adalah kepalanya yang kecil dan panjang, dengan ekor yang sering membentuk kipas. Bagian tubuhnya memiliki warna hitam dengan jambul kecil. Warna sangat bervariasi dalam bentuk terang, normal, dan gelap dari dua ras yang berbeda yang masing - masing meniru jenis elang berbeda dalam pola warna bulu, dan terdapat garis - garis yang tidak teratur pada ekor.

Spesies burug ini sering terlihat mengunjungi hutan-hutan di pegunungan. Dan ciri-ciri khas pada waktu terbang adalah mengepakan sayap dalam beberapa kepakan lalu meluncur panjang dan melayang tinggi dengan sayap datar. Sesuai dengan namanya, burung ini sering merampas sarang tawon atau lebah, selain itu sering juga memakan serangga.

Itulah tadi beberapa jenis elang yang biasa ditemukan di Pulau Jawa. Karena populasinya terus mengalami penurunan, maka semua jenis burung elang ditetapkan sebagai jenis burung yang dilindungi sesuai dengan PP No.7 Tahun 1999 dan UU No.5 Tahun 1990. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut bisa dikenai sangsi pidana dan denda yang cukup besar. 

Semoga bermanfaat
Powered by Blogger.