Jalan Raya Pos, saksi bisu si tangan besi Daendels

{ advertiser here ]
Jalan Raya Pos atau dalam bahasa Belanda disebut  Grotepost weg adalah nama jalan di sepanjang P. Jawa yang menghubungkan Anyer dengan Panarukan. Jalan raya ini dibangun semasa pemerintahan Hindia-Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Banyak kisah-kisah sejarah yang mengalir di sepanjang jalan raya pos ini terutama tentang kepemimpinan si tangan besi Daendels saat pembuatannya. 

Jalan Raya Pos


Jalan Raya Pos dibangun pada waktu Belanda tengah dijajah oleh Perancis. Pembangunan jalan tersebut adalah sebuah proyek besar dan monumental dari Daendels. Bahkan untuk memuluskan ambisinya itu, ia memberlakukan kerja paksa pada rakyat tanpa pandang bulu. Banyak rakyat yang bekerja untuknya tidak mendapatkan upah sepeser pun sehingga dalam pembangunannya, ribuan rakyat meninggal dunia akibat penyakit, kelaparan dan kelelahan. 

Mega proyek jalan raya pos ini juga turut melibatkan banyak priyayi atau penguasa pribumi dan tuan tanah termasuk juga centeng-centeng pribumi untuk memobilisasi rakyat. Mereka ditargetkan untuk membangun jalan sekian kilometer, dan jika gagal atau tidak tepat waktu maka Daendels akan menghukum mereka, termasuk juga para mandor dan pekerjanya. 

Hukuman yang dijatuhkan pun terkadang cukup sadis. Mereka yang membangkang atau dianggap gagal maka kepala mereka akan dipenggal lalu digantungkan di pohon-pohon yang ada di sepanjang kiri kanan dari ruas jalan sebagai peringatan bagi yang lain. 

Masa kepemimpinan Daendels memang cukup membuat takut pribumi karena ia dikenal sangat kejam dan tak kenal ampun. Bahkan tak segan-segan Daendels akan menembak mati rakyat yang terlihat malas-malasan atau lalai dalam pekerjaannya.

Jalan Raya Pos di Buitenzorg / Bogor


Saking banyaknya korban jiwa dalam pembuatan jalan yang juga menghubungkan Batavia dengan Bantam (Banten) ini jumlah pastinya pun masih simpang siur. Para sejarawan beranggapan bahwa jumlah korban yang meninggal diperkirakan lebih dari 15.000 orang dan kebanyakan mayat mereka dibiarkan begitu saja tidak dikubur dengan layak. 

Sistem kerja paksa tanpa kenal ampun dari Daendels membuat pembangunan Jalan Raya ini selesai hanya dalam waktu satu tahun yaitu pada 1808. Kepiawaian Daendels dengan tangan besinya menjadi prestasi yang luar biasa, bahkan namanya dan jalan raya pos menjadi terkenal hingga ke seluruh dunia. 

Pembangunan Jalan Raya Pos pada awalnya ditujukan untuk kepentingan militer Belanda. Tapi selain itu, jalan raya yang menghubungkan Annyer dan Panarukan ini juga digunakan untuk menunjang sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel) yang di masa itu tengah dicanangnkan oleh pemerintahan kolonial. 

Dengan adanya jalan lintas antar pulau ini maka hasil bumi dari tanah Priangan bisa lebih mudah dikirim ke Pelabuhan Cirebon sebelum dibawa ke negeri mereka. 

Keberadaan jalan raya ini pun semakin memperpendek waktu tempuh. Kalau sebelumnya bepergian dari Surabaya ke Batavia akan memakan waktu sampai 40 hari, tapi setelah adanya jalan raya ni waktu tempuh bisa dipersingkat menjadi 7 hari. Tidak bisa dipungkiri, Daendels telah berhasil membuat prestasi yang luar biasa pada masanya, meski untuk itu ia melakukannya dengan tangan besi. 

Selain digunakan sebagai jalur pengiriman hasil bumi dari hasil tanam paksa, jalan raya ini juga kerap digunakan untuk pengiriman surat yang oleh Daendeles kemudian dikelola dalam  Jawatan Pos. Alhasil jalur yang sebelumnya dikenal dengan nama Grote weg atau jalan besar/raya, kini menjadi Jalan Raya Pos alias Grote post weg. 


Pada masa-masa awal, sepanjang 4,5 kilometer dari jalun raya ini berdiri pos-pos penjagaan yang berfungsi sebagai tempat penghentian dan penghubung untuk pengiriman surat-surat. Selain untuk melancarkan komunikasi antar daerah di sepanjang Pulau Jawa, jalan raya ini juga dikhususkan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. 

Jalan raya pos ini difungsikan sebagai jalan lintas pantura atau pantau utara. Namun jalur jalan raya pos yang sebenarnya adalah jalan yang menuju dataran tinggi preanger, dari Meester Cornelis (Jatinegara), hingga ke selatan Buitenzorg (Bogor), dan kemudian mengarah langsung ke timur Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon.

0 Komentar untuk "Jalan Raya Pos, saksi bisu si tangan besi Daendels"

Back To Top