Sejarah Sekolah di Hindia Belanda dan Diskriminasi terhadap Pribumi

{ advertiser here ]
Walaupun sebagian masyarakat pribumi beruntung bisa menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah seperti HIS, ELS, MULO, AMS atau HBS, namun pada kenyataannya mereka selalu mendapat diskriminasi. 

Sejarah Sekolah di Hindia Belanda



Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda atau Dutch east indies (nama Indonesia tempo dulu) para pribumi yang berpenghasilan lebih dari 100 Gulden sebulan dapat menyekolahkan anaknya yang sudah berumur 6 tahun di Hollandsche Inlandsche School atau HIS. Adapun para pembesar pribumi lebih banyak yang menyekolahkan anaknya di Europesche Lager School atau ELS. Di dua jenis sekolah dasar ini, para siswa akan belajar dengan pengantar dalam Bahasa Belanda selama tujuh tahun.

Sebagian besar murid yang belajar di HIS adalah anak-anak Indonesia, sedangkan di ELS jika anak tersebut berkulit coklat dan tidak memiliki dasar Eropa atau Indo maka jangan harap bisa bergaul dengan anak-anak keturunan Belanda atau Eropa. Dalam film "Oeroeg" yang dirilis tahun 1995, dapat dijumpa perbedaan sekolah HIS dan ELS. 

Dalam film yang dibuat berdasarkan novel Hella S.Haasse, Oeroeg belajar di HIS dengan pakaian orang pribumi sedangkan Johan Ten Berge sahabat dekatnya bersekolah di ELS dengan pakaian ala Eropa. Walau begitu, mereka berdua tetap menyanyikan lagu yang sama di sekolah mereka yaitu, Wilhelmus van Nassau (lagu kebangsaan Belanda) dsambil mengibarkan bendera merah-putih-biru. 

film oeroeg

Selain HIS an ELS, ada lagi sekolah untuk rakyat yaitu Volkschool. Di sekolah ini, siswa hanya diajari membaca, menulis dan berhitung saja tidak disertai dengan pelajaran ilmu pengetahuan maupun keahlian-keahlian lainnya. 

Salah seorang anak pribumi yang beruntung bisa bersekolah di ELS adalah seorang pahlawan nasional, Gatot Subroto. Namun karena berkelahi dengan anak residen Banyumas, Gatot dikeluarkan dari sekolah itu dan akhirnya jadi lulusan HIS.

Wage Rudolf Supratman pencipta lagu Indonesia Raya pun pernah mencoba daftar di ELS namun tidak diterima dengan alasan van Eldik yang mendaftarkan  W.R Supratman bukanlah ayah kandungnya melainkan kakak ipar yang menjadi orangtua angkatnya. Alhasil, Supratman akhirnya bersekolah di HIS.

Kebanyakan anak-anak pribumi yang bersekolah di ELS maupun di HBS (Hogare Burgerlijke School) adalah kaum minoritas yang harus tunduk pada semua orang-orang Belanda. Haram hukumnya bagi mereka menentang guru-guru. Mereka yang berkulit coklat dan bukan keturunan Eropa digolongkan sebagai inlander yang kelasnya berada di bawah Nederlander. Kecuali orangtuanya ikut Gelijkgesteld maka status hukum anak dan keluarganya itu disamakan dengan orang-orang Eropa. 

Diskriminasi terhadap kaum pribumi tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah saja, tetapi juga terjadi di tempat-tempat umum. Pada awal abad ke-20, kolam renang dan bioskop menjadi hiburan yang sangat populer di kalangan orang Indonesia yang bergaya modern dan bertingkah laku bak orang-orang Belanda. Namun nyatanya, tak semua tempat bisa dimasuki mereka. 

Ada bagian di film Oeroeg yang cukup menyedihkan. Suatu kali, Oeroeg dan Johan hendak menonton film Tarzan. Sialnya Oeroeg tak bisa masuk ke ruangan khusus orang Eropa. Akhirnya Oeroeg masuk ke ruangan untuk pribumi, yang berada di belakang layar. Orang Eropa bisa melihat film dengan sesuai gambar, sementara orang pribumi seperti menonton film dari cermin saja.

Tak hanya bioskop, di societeit (tempat sosialita Eropa berkumpul untuk bersenang-senang dan kolam renang pun berlaku aturan yang mendiskriminasi kaum pribumi. Kalau pun ada orang pribumi yang boleh masuk ke tempat-tempat tersebut, maka mereka itu umumnya adalah para jongos atau pelayan Belanda. Yang lebih menyakitkan lagi di depan pintu masuk tempat tersebut sering ditempeli tulisan “Verboden voor honden en inlander.” 

Sampai tahun 1945, sekolah-sekolah di masa itu hanya bisa dinikmati oleh 10 persen penduduk saja, mereka kebanyakan mempunyai ijazah sekolah dasar baik itu HIS ELS atau Volkschool.

Kemana lulusan HIS/ELS belajar 

Setelah menyelesaikan sekolahnya, lulusan HIS dan ELS akan meneruskan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi atau setingkat SMP. Di sini pula ada peraturan yang mendiskriminasi kaum pribumi. 

Lulusan HIS umumnya akan melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara SMP dengan masa belajar tiga tahun, setelah itu melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi yaitu Algemeene Middelbare School (AMS) atau setara SMA dengan masa belajar tiga tahun, setelah itu baru bisa kuliah di sekolah tinggi atau semacam universitas. Sedangkan lulusan ELS hanya diizinkan melanjutkan pendidikan ke HBS dengan masa belajar lima tahun. 

Setelah lulus dari SMA baik itu AMS atau HBS maka pendidikan bisa dilanjutkan ke universitas yang berada di Negeri Belanda karena waktu itu memang belum ada universitas di Indonesia yang ada hanya sekolah tinggi kedokteran yaitu STOVIA atau School tot Opleiding van Indische Artsen yang dikenal dengan nama Sekolah Dokter Jawa di Kwitang yang kemudian berubah menjadi Geeneskundig Hoge School di Salemba.

STOVIA

Di era Dokter Soetome STOVIA menerima para lulusan dari ELS, tapi setelah itu kampus ini hanya menerima lulusan dari HBA atau AMS. 

Selain sekolah kedoktern, di Batavia juga berdiri sekolah hukum yang bernama Recht Hoge School yang lokasiny kini menjadi Kantor Kementrin Pertahanan. Ada juga sekolah pertanian atau Landbouw School di Bogor yang belakangan jadi Institut Pertanian Bogor (IPB). Di bidang teknik ada Technik Hoge School di Bandung yang sekarang adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Kalaupun para lulusannya tak mau meneruskan pendidikannya di jenjang yang lebih tinggi, mereka bekerja di beberapa perusahaan. Orang-orang pribumi yang memiliki ijasah ELS atau HIS biasanya akan bisa diterima bekerja di kantor. Selain itu, merek juga bisa bergabung dengan Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias KNIL. Pada masa itu, sarjana dari kalangan pribumi sangat jarang dan cukup disegani. Kondisi tersebu tentu berbeda dengan situasi sekarang dimana menurut catatan Badan Pusat Statistik di tahun 2015 sja terdapat lebih dari 600 ribu sarjana menjadi pengangguran.

Tulisan ini bersumber dari Tirto.id
0 Komentar untuk "Sejarah Sekolah di Hindia Belanda dan Diskriminasi terhadap Pribumi"

Back To Top