07 October 2017

Kisah Tole Iskandar, letnan muda yang rela bertaruh nyawa

Setelah lama tak ada kabar, pulangnya Tole Iskandar ke rumahnya di kawasan Ratu Jaya, Depok sontak saja membuat seluruh keluarganya terkejut. Terlebih lagi kedatangan Tole saat itu sambil mengenakan seragam Shudanco lengkap dengan samurainya. Kepulangan pria kelahiran 1926 itu memang cukup mengejutkan karena selama ini ia sudah dianggap sebagai anak hilang.


Beberapa hari setelah Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, si anak hilang itu sudah pulang kembali ke rumahnya. Rupanya, selama menghilang itu Tole ternyata ikut bergabung dengan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). 

Pada 21 September 1945, dalam rangka menyambut revolusi kemerdekaan Indonesia, Tole mengumpulkan para pemua bekas tentara Heiho dan PETA yang bermukim di Depok dan sekitarnya. Pertemuan yang dilakukan di sebuah rumah di Jl Citayam (skrg Ruko di Jl Kartini) itu dihadiri oleh sekitar 21 orang. 

Pertemuan tersebut menyepakati dibentuknya Barisan Keamanan Depok yang sepadan dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR), tapi karena jumlahnya 21 orang maka mereka dijuluki sebagai Laskar 21. 

Pada 5 Oktober 1945, Barisan Keamanan Rakyat (BKR) diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sesuai maklumat Pemerintah Republik Indonesia. Di wilayah Jawa Barat dibentuk suatu komandeman TKR dibawah pimpinan Jenderal Didi Kartasasmita dengan komposisi sebagai berikut:

Batalyon I dipimpin Ibrahim Adjie sebagai batalyon ujung tombak yang ditempatkan di Depok. Laskar 21 pimpinan Tole Iskandar bergabung dalam satuan ini. 
Kompi I batalion ini dipimpin oleh Lettu Kosasih yang bermarkas di Depok. Laskar 21 masuk dalam kompi markas pimpinan Letnan Harun Al Rasyid yang berkedudukan di Citayam.
Kompi II dipimpin Letnan Ishak Djuwarsa yang bemarkas di Ciputat menghadapi front Kebayoran.
Kompi III dipimpin Letnan Kartoyo yang bermarkas di Sawangan.
Kompi IV dipimpin Letnan Yusuf Padma yang bertugas mengamankan jalur Cibinong-Bogor. 
Batalyon II berada di dalam Kota Bogor dipimpin oleh Toha. 
Batalyon III dipimpin oleh H. Dasuki Bakri dengan didampingi oleh Pasukan Berani Mati pimpinan Letnan Sukarna. Daerah mereka adalah di Rancabungur, Ciseeng, dan Semplak. 

Komposisi tersebut disiapkan untuk menghadapi kedatangan tentara Sekutu yang telah melakukan pendaratan besar-besaran di Pelabuhan Tanjung Priok pada 29 September 1945.

Pada 11 Oktober 1945, terjadi peristiwa Revolusi Sosial yang disebut sebagai Gedoran Depok. Dalam peristiwa ini Laskar 21 pimpinan Tole Iskandar memainkan peranan penting. Bahkan saking dendamnya pada Tole, rumahnya di Depok dbakar oleh sejumlah masa dari Belanda Depok yang datang balas dendam dengan dukungan tentara NICA.

GEDORAN DEPOK

Merujuk laporan intelijen Belanda, pada tanggal 11 Oktober 1945, ribuan orang dari segala penjuru mata angin datang menyerbu Depok. Mereka yang selama ini mendapatkan "keistimewaan' dari Belanda mendapat gempuran dari laskar dan rakyat. Kecemburuan sosial terhadap orang-orang turunan Eropa dan Belanda menimbulkan chaos dan penjarahan pun terjadi di mana-mana.

Dalam suasana yang chaos itu, Laskar 21 pimpinan Tole Iskandar tampil ke permukaan. Mereka segera mengumpulkan orang Belanda Depok lalu memisahkannya dalam dua kelompok. Wanita dan anak-anak ditahan di Gemeente Bestuur (skrg RS Harapan di Jl Pemuda), sedangkan para pria dibawa ke Stasiun Depok dan ditahan di penjara Paledang Bogor. Selama dalam pengawasannya, Laskar 21 tidak pernah sekalipun menyakiti para tawanan.



Gemeente Bestuur, Depok

Setelah menguasai Depok, laskar dan para pejuang kemudian menjadikan Gemeente Bestuur sebagai markas TKR Batalyon I Resimen IV pimpinan Ibrahim Adjie (yang kelak jadi Pangdam Siliwangi). Di situ pula didirikan palang merah dan dapur umum. Karena dikuasai oleh para pemuda, daerah yang di zaman Hindia Belanda bernama Kerkstraat (jalan gereja) itu pun berganti nama menjadi Jalan Pemuda. 

Pengambil alihan Depok oleh tentara republik ternyata tidak berlangsung lama, karena tidak berapa lama daerah ini mulai didatangi oleh tentara NICA. Terjadi pertempuran sengit, namun karena kalah senjata pihak republik berhasil dipukul mundur. 

Melalui seorang kurir, Tole Iskandar mengirimkan surat kepada orangtuanya untuk segara meninggalkan Depok. Ia juga meminta doa restu pergi gerilya untuk melanjutkan perjuangan dengan para pemuda lainnya. 

Depok pada akhirnya dikuasai oleh NICA yang kemudian menggunakan bekas markas TKR sebagai markas mereka. (skrg RS Harapan). Adapun TKR membuka markas baru yang berlokasi di Bojonggede. 

Setelah Depok dikuasai oleh Belanda, orang-orang Depok yang dulu dibekingi NICA dan KNIL melampiaskan dendamnya. Mereka membakar beberapa rumah, termasuk rumah keluarga Tole Iskandar.

PERJUANGAN TOLE ISKANDAR

Serangan yang bertubi-tubi dari NICA membuat pasukan republik yang sudah menguasai Depok sejak 11 Oktober 1845 itu terpukul mundur. Keluarga Tole Iskandar pun terpaksa mengungsi meninggalkan rumah mereka yang telah dibakar oleh orang Belanda Depok. 

Bersama dengan para pengungsi lainnya, keluarga Tole berjalan kaki melewati jalan setapak melewati kampung demi kampung. Naik turun bukit hingga pematang sawah sampai akhirnya tiba di Jalan Cikeumeuh, Bogor. 

Di Bogor Keluarga Tole mengungsi di rumah keluarga Ibrahim Adjie (*) di Gang Menteng, di rumah ini pula adik perempuan Tol, Sukarsih kemudian menikah dengan Mohammad Saidi Adi yang merupakan adik kandung Ibrahim Adjie, pimpinan TKR Depok yang kelak menjabat sebagai Pangdam Siliwangi. Setelah dirasa aman, keluarga Tole kemudian pindah ke Kota Paris, Bogor. 

Adapun Tole Iskandar masih bergabung bersama pasukan Ibrahim Adjie di markas TKR Bojonggede. Namun ketika markas mereka digempur oleh pihak musuh, Tole dan kawan-kawan kemudian mundur ke daerah Cicurug, Sukabumi. 

Perjalanan Bogor- Sukabumi sangat penuh rintangan, apalagi pemeriksaan dilakukan di setiap batas-batas jalan. Untuk menembusnya, mereka harus melakukan penyamaran seperti petani biasa.

Peperangan demi peperangan telah dialami Letnan Dua Tole Iskandar sepanjang hidupnya. Pertempuran terakhir beliau adalah di Sukabumi pada tahun 1947.

Saat itu, Tole dan rekan-rekannya disergap pasukan Belanda di Onderneming Cikasintu, Sukabumi. Karena digempur habis-habisan, Tole Iskandar jadi tidak berkutik, ia pun meletakkan senjatanya lalu mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda menyerah.

Saat itu juga, sekitar lima orang tentara Belanda mendekatinya untuk meringkusnya hidup-hidup. Namun langkah mereka terhenti oleh gonggongan anjing besar milik Tole.

Tanpa pikir panjang, salah seorang dari tentara Belanda kemudian menembakkan senjatanya ke arah anjing tersebut. Dor! matilah anjing itu seketika.. Melihat hal tersebut, Tole pun marah, ketika hendak ditawan dengan gesitnya ia merampas senjata millik salah seorang serdadu lalu membunuh kelimanya dengan senjata tersebut.

Pasukan Belanda yang lain kaget, dan sebuah mitraliur tank tempur Belanda yang sudah siap posisi langsung memborbardir tubuh Tole.

Oleh rekan-rekannya, jasad Tole kemudian di bawa ke Bogor untuk dimakamkan di Pemakaman Dreded (skrg TMP Dreded). Keluarga Tole pun diundang untuk ikut menyaksikan proses pemakaman tersebut. 

Pemakaman Tole Iskandar | tamantoleiskanda.wordpress.com


Untuk mengenang jasa-jasanya, nama Tole Iskandar diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kota Depok.

Komentar: 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post