Sejarah dan Asal Usul Kerajaan Pakuan Pajajaran

{ advertiser here ]
Pakuan Pajajaran merupakan pusat pemerintahan dari Kerajaan Sunda, kerajaan yang berdiri selama beberapa abad di Pulau Jawa bagian barat mulai dari abad ke7 s/d abad ke-16.  Pusat pemerintahan atau ibu kota dari kerajaan itu sendiri berlokasi di wilayah Bogor, Jawa Barat. Di masa lalu, ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda sering juga disebut sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran atau Kerajaan Pajajaran. 

peta pakuan



Kerajaan Pakuan Pajajaran rata dengan tanah pada tahun 1579 setelah mendapat serangan dari pecahan kerajaan Sunda yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman kerajaan Sunda itu ditandai dengan diboyongnya Batu Palangka Sriman Sriwacana yang merupakan batu tempat pelantikan raja-raja Sunda dari istana Pakuan ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu yang berukuran 200x160x30 cm itu dibawa ke Banten untuk memutus kerajaan sehingga tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru yang menguasai wilayah Sunda. Hal ini juga berarti bahwa Maulana Yusuf menjadi penerus kekuasaan Sunda berikutnya karena buyut perempuannya merupakan puteri dari Sri Baduga Maharaja, salah seorang raja dari Kerajaan Sunda. 

Batu pelantikan raja-raja Pajajaran itu kini bisa dilihat di depan bekas Keraton Surosowan, Banten. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai watu gilang yang berarti batu mengkilap, sama seperti arti dari Sriman. 

Palangka Sriman Sriwacana


Setelah serangan dari pasukan Banten, ada sejumlah punggawa Istana yang berlarian meninggalkan istana dan kemudian menetap di daerah Lebak. Mereka kemudian menerapkan cara kehidupan mandala yang ketat dan kini mereka dikenal sebagai orang Baduy. 

Arti kata Pakuan dan Pajajaran

Asal usul Pakuan bisa ditemukan dalam berbagai sumber, seperti berikut ini: 

  • Naskah Carita Waruga guru (1750): Naskah berbahasa Sunda Kuna ini menerangkan bahwa nama Pakuan Pajajaran berdasarkan di lokasi tersebut banyak tumbuh pohon Pakujajar.
  • K.F. Holle (1869): Dalam tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg, Holle menyebutkan bahwa di dekat Kota Bogor ada sebuah kampung bernama Cipaku beserta sungai dengan nama yang sama. Di daerah ini banyak ditemukan pohon paku, sehingga menurut Holle nama Pakuan ada kaitannya dengan adanya kampung Cipaku dan banyaknya pohon-pohon paku. Pakuan Pajajaran berarti pohon paku yang berjajar ("op rijen staande pakoe bomen").
  • G.P. Rouffaer (1919): Dalam Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe tahun 1919. Pakuan mengandung pengertian "paku", akan tetapi harus diartikan "paku jagat" (spijker der wereld) yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam. "Pakuan" menurut Fouffaer setara dengan "Maharaja". Kata "Pajajaran" diartikan sebagai "berdiri sejajar" atau "imbangan" (evenknie). Yang dimaksudkan Rouffaer adalah berdiri sejajar atau seimbang dengan Majapahit. Sekalipun Rouffaer tidak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, namun dari uraiannya dapat disimpulkan bahwa Pakuan Pajajaran menurut pendapatnya berarti "Maharaja yang berdiri sejajar atau seimbang dengan (Maharaja) Majapahit". Ia sependapat dengan Hoesein Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan Pajajaran didirikan tahun 1433.
  • R. Ng. Poerbatjaraka (1921): Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor) ia menjelaskan bahwa kata "Pakuan" mestinya berasal dari bahasa Jawa kuno "pakwwan" yang kemudian dieja "pakwan" (satu "w", ini tertulis pada Prasasti Batutulis). Dalam lidah orang Sunda kata itu akan diucapkan "pakuan". Kata "pakwan" berarti kemah atau istana. Jadi, Pakuan Pajajaran, menurut Poerbatjaraka, berarti "istana yang berjajar"(aanrijen staande hoven).
  • H. ten Dam (1957): Sebagai seorang pakar pertanian, Ten Dam ingin meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat dengan pendekatan awal segi perkembangan sejarah. Dalam tulisannya, Verkenningen Rondom Padjadjaran (Pengenalan sekitar Pajajaran), pengertian "Pakuan" ada hubungannya dengan "lingga" (tonggak) batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis sebagai tanda kekuasaan. Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian "paku". Ia berpendapat bahwa "pakuan" bukanlah nama, melainkan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton. Kata "pajajaran" ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara "Sungai Besar" dan "Sungai Tanggerang" (sekarang dikenal sebagai Ci Liwung dan Ci Sadane). Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama "Pajajaran" muncul karena untuk beberapa kilometer Ci Liwung dan Ci Sadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau "Dayeuh Pajajaran".


Adapun penyebutan "Pakuan", "Pajajaran", dan "Pakuan Pajajaran" bisa ditemukan dalam Prasasti Batutulis dan Prasasti Kebantenan di Bekasi.

Naskah Carita Parahiyanagan menyebutkan "Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

Sanghiyang Sri Ratu Dewasa merupakan gelar lain untuk menyebutkan nama Sri Baduga. Adapun yang disebut Pakuan itu sebenarnya merupakan Kadaton yang bernama Sri Bima dan seterusnya. Secara umum, Pakuan adalah tempat tinggal untuk raja atau yang biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Tafsiran Poerbatjaraka mengungkap bahwa seperti dalam Carita Parahiyangan, Pakuan Pajajaran mengandung arti istana yang berjajar. 

Lima Keraton Pakuan Pajajaran (Iustrasi)


Keraton Pakuan sendiri terdiri dari lima buah bangunan keraton yang masing-masing bernama: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati. Dalam istilah klasik, lima keraton tersebut disebut "Panca Persada". Suradipati merupakan bangunan keraton induk, hal ini bisa dibandingkan dengan nama-nama keraton lainnya seperti Surawisesa di Kawali, Surasowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam. 

Karena kepanjangan nama-nama tersebut, masyarakat dahulu lebih senang meringkasnya menjadi Pakuan Pajajaran atau Pakuan atau bahkan Pajajaran. 


Pendapat Ten Dam (Pakuan = ibukota ) benar dalam penggunaan, tetapi salah dari segi semantik. Dalam laporan Tome Pires (1513) disebutkan bahwa bahwa ibukota kerajaan Sunda itu bernama "Dayo" (dayeuh) dan terletak di daerah pegunungan, dua hari perjalanan dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung. Nama "Dayo" didengarnya dari penduduk atau pembesar Pelabuhan Kalapa. Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata "dayeuh" (bukan "pakuan") bila bermaksud menyebut ibukota. Dalam percakapan sehari-hari, digunakan kata "dayeuh", sedangkan dalam kesusastraan digunakan "pakuan" untuk menyebut ibukota kerajaan.

Karena lokasi Pakuan yang berada di antara dua sungai yang sejajar maka Pakuan disebut juga Pajajaraan. (Bersambung) 

Rujukan
“Maharadja Cri Djajabhoepathi, Soenda’s Oudst Bekende Vorst”, TBG, 57. Batavia: BGKW, page 201-219, 1915)
Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid I: Dokumen-dokumen sejarah Jakarta sampai dengan akhir abad ke-16
Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran, Jilid 2, Edi S. Ekajati, Pustaka Jaya, 2005
The Sunda Kingdom of West Java From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor, Herwig Zahorka, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 2007-05-20
Catatan
Noorduyn, J. (2006). Three Old Sundanese poems. KITLV Press. p. 437. 

Danasasmita, Saleh (1983). Sejarah Bogor (Bagian I). PEMDA BOGOR.

0 Komentar untuk "Sejarah dan Asal Usul Kerajaan Pakuan Pajajaran"

Back To Top