27 September 2017

Saat Gunung Agung Mengamuk Pulau Dewata

Dalam catatan sejarah, Gunung Agung yang dikeramatkan di Pulau Dewata sudah empat kali mengeluarkan letusannya yaitu pada tahun 1808, 1821, 1843, dan tahun 1963. Letusan yang dianggap dahsyat terjadi selama tahun 1963 sampai 1964, dan telah memakan korban jiwa sebanyak 1.700 orang. 

gunung agung meletus



Letusan pertama terdengar pada 18 Februari dan hanya terlihat asapnya saja yang keluar dari puncaknya. Selang enam hari kemudian, kawah Gunung Agung mulai meluberkan lava yang turun hingga mencapai jarak 7 kilometer dalam waktu 20 hari. 

Pada 17 Maret, erupsi Gunung Agung mencapai skala 5 VEI (Indeks Letusan Vulkanis), seraya melontarkan pasir dan bebatuan vulkanis yang mencapai 8 - 10 kilometer ke udara. Disusul pula dengan semburan awan panas alias wedus gembel. 

Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 ini juga mengakibatkan penurunan suhu bumi sebesar 0,4 derajat celcius. Hal ini terjadi karena material vulkanik berupa aerosol sulfat dari gunung itu terbang hingga jarak 14 kilometer dan melapisi atmosfer Bumi.

Letusan yang berlangsung sejak Februari 1963 hingga 27 Januari 1964 tersebut telah menyebabkan kematian sekitar 1.500 orang. Namun laporan dua ahli geologi dari ITB dan Survei Geologis Indonesia pada tahun 1964 menyebutkan penambahan korban 200 orang lainnya yang meninggal akibat lahar dingin yang disebabkan oleh hujan deras pasca-erupsi. 

Sumber Foto: BBC

Bencana di Pulau Dewata ternyata tidak berhenti sampai di situ saja, kondisi puluhan ribu pengungsi terlihat amat memprihatinkan. Situasi tersebut semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat di Bali. Selain itu, gelombang pengangguran pun terjadi di mana-mana akibat hilangnya lahan pertanian sekira 25 ribu hektar dan 100 ribu hektar lain yang tidak akan bisa digarap lagi dalam jangka waktu tahunan. 

Kondisi yang demikian tentu semakin memperparah keadaan. Apalagi sebelum Gunung Agung mengamuk, kodisi masyarakat setempat juga sedang tiarap akibat serangan hama dan wabah tikus yang menyebabkan banyak pertanian mereka yang gagal panen.