Rohingya: Nasib Buruk Kaum Terbuang. Benarkah Mereka Sebenarnya Penduduk Asli Burma?

{ advertiser here ]
Walaupun telah lama berada di Burma (Myanmar) secara turun-temurun, namun keberadaan mereka sama sekali tidak diakui sebagai warga negara. Lebih dari itu, mereka bahkan kerap mendapat penganiayaan dan pengusiran bahkan tak sedikit dari mereka yang harus kehilangan nyawanya. Itulah Rohingya, yang selalu bernasib buruk sebagai kaum yang terbuang.

Rohingya




Beberapa di antara mereka terpaksa melanglangbuana ke negara-negara terdekat dengan menggunakan perahu seadanya sehingga mendapat julukan sebagai "manusia perahu".  Tapi derita tak kunjung berhenti, setiap negara yang mereka kunjungi tak mau memberikan suaka. 

Banyak yang percaya kalau orang-orang Rohingya sebenarnya merupakan suku bangsa asli di Arakan (sekarang wilayah Burma yang juga disebut Rakhine). Tapi tak sedikit yang menyangkalnya. Nah, pangkal persoalan yang muncul adalah identitas dari orang-orang Rohingya tersebut.

Orang yang pertama kalinya memperkenalkan istilah Rohingya kepada dunia adalah seorang sejarawan Inggris, Francis Buchanan-Hamilton. Dalam laporannya yang berjudul A Comparative Vovabulary of Some of the Languages Spoken in the Burma Empire terbitan tahun 1799, Buchanan menyebut: 

“Saya akan menambahkan tiga bahasa lagi yang digunakan di imperium Burma yang tampaknya berasal dari bahasa etnis Hindu. Bahasa pertama digunakan oleh umat Islam, yang sudah lama tinggal di Arakan, dan yang menyebut diri mereka Rooinga, atau suku asli Arakan.” Istilah "Rooinga" itupun kemudian berubah menjadi Rohingya.

Namun keterangan tersebut dibantah keras para sejarawan Burma, salah satunya datang dari Aye Chan seorang sejarawan dari Universitas Kanda. Dia bahkan dengan lantang berkata bahwa pengakuan orang-orang Rohingya sebagai masyarakat asli Burma adalah sebuah kesalahan. Menurutnya, istilah Rohingya baru dikenal dalam sejarah setelah era kemerdekaan. 

“Istilah ‘Rohingya’ mulai digunakan pada 1950-an oleh orang-orang terdidik Bengali yang menempati wilayah perbatasan Mayu dan tak dapat ditemukan dalam sumber sejarah manapun sebelumnya,” tulis Chan dalam sebuah buletin yang diterbitkan universitasnya pada 2005.

Walaupun para ahli di Burma tetap merasa enggan untuk mengakui keberadaan mereka atas fakta sejarah tersebut, namun istilah Rohingya kini dipakai untuk menyebutkan orang-orang Muslim di Burma yang mengalami pembantaian dan pengusiran. 


0 Komentar untuk "Rohingya: Nasib Buruk Kaum Terbuang. Benarkah Mereka Sebenarnya Penduduk Asli Burma?"

Back To Top