28 September 2017

Rawagede, kisah suram warga desa di tangan Belanda

Tanggal 9 Desember 1947 menjadi hari yang tak biasa bagi penduduk desa Rawagede, Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Suasana begitu mencekam saat tentara Belanda memeriksa rumah-rumah penduduk dan memerintahkan mereka untuk keluar dan berkumpul. Tak lama berselang, terdengar suara rentetan senapan lalu suasana menjadi begitu senyap. 

Rawagede, kisah suram warga desa di tangan Belanda



Pembantaian di Rawagede terjadi pada hari Selasa Kliwon, 9 Desember 1947 yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer I Belanda. Hampir seluruh pria yang berusia 15 - 60 tahun tewas dibunuh tanpa sempat melakukan perlawanan. Dari beberapa informasi yang berhasil didapat, hanya ada seorang pria yang bernama Sa'ih bin Sakam yang berhasil lolos dari maut saat peristiwa itu terjadi. Pria ini kini telah meninggal pada pertengahan 2011. Berdasarkan catatan yang ada, ada 431 penduduk desa yang tewas akibat kebrutalan pasukan Koninlijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) itu. 

Pembantaian Rawagede adalah salah satu jejak kekerasan militer Belanda yang pernah terjadi selama periode revolusi fisik di Indonesia yang berlangsung dari tahun 1945 s/d 1950. Selain peristiwa Rawagede ada juga aksi pembantaian yang dikomandoi oleh Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan.  

Pembantaian di Rawagede diwarnai aksi penyiksaan dan penembakan sewenang-wenang oleh militer Belanda. Hal itu diakui mereka melalui buku putih pemerintah Belanda yang terbit pada 1969 "De Excessennota". Namun hingga hari ini, pemerintah Belanda bersikeras bahwa peristiwa yang pernah terjadi di Rawageda adalah "kejahatan eksesif" bukan "kejahatan perang".

Sebelum peristiwa pembantaian terjadi, daerah Rawagede sejak tahun 1947 sudah menjadi tempat berkumpulnya para laskar pejuang yang berasal dari Bekasi dan Karawang, bahkan pejuang dari Cirebon dan Yogyakarta pun kerap menjadikan desa tersebut sebagai tempat persinggahan. 

Keberadaan para pejuang dan laskar itu pun kerap disambut hangat oleh para penduduknya. Mereka bahkan rela memberikan makanan dan menyediakan tempat untuk menginap. Selain itu, Rawagede juga adalah tempat yang sangat strategis untuk memobilisasi penyerangan, apalagi saat itu daerah ini dilintasi oleh jalur kereta api Cikampek-Rengasdengklok. Rengasdengklok merupakan salah satu gudang persenjataan dan material, dan di sana ada bekas markas pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk oleh Jepang. 

Kedatangan militer Belanda dipicu oleh informasi bahwa Kapten Lukas Kustario (Komandan Divisi Siliwangi Wilayah Karawang-Bekasi) berada di desa tersebut. 

Lukas yang meninggal pada 8 januari 1997 itu adalah orang yang paling dicari pihak Belanda dan menjadi momok bagi mereka karena Lukas adalah salah seorang pejuang yang pernah membajak kereta api yang membawa senjata dan amunisi milik Belanda di awal tahun 1947. 

Kereta yang membawa senjata dan amunisi itu berangkat dari Kota Surabaya menuju Jakarta. Namun di tengah perjalanan saat melintasi Cikampek, kereta itu dicegat oleh Lukas dan pasukannya. Dalam peristiwa pembajakan tersebut, Lukas berhasil merampas ratusan pucuk senjata serta ribuan butir peluru. Sejak saat itulah, Lukas menjadi orang yang paling dicari militer Belanda. 

Informasi yang didapat intel Belanda pada hari Minggu, 7 Desember 1947 menyebutkan bahwa Lukas sedang berada di Rawagede bersama ratusan orang pasukannya. Namun karena pasukan Belanda yang bermarkas di Karawang tidak berani masuk ke daerah itu, maka mereka akhirnya meminta bantuan di kirim pasukan dari Jakarta.

Pasukan inilah yang segera bergerak cepat dengan mengerahkan sekitar 300 personel bersenjata lengkap. Pasukan Belanda yang ikut ambil bagian dalam operasi di daerah Karawang terdiri dari Detasemen 3-9 RI, Pasukan Para (1e Para Compagnie), dan 12 Genie Veld Compagnie, yaitu brigade cadangan dari pasukan Para dan DST (Depot Speciale Troepen). 

Para pasukan tersebut dipimpin oleh Mayor Alfons Wijnens dengan perintah untuk membumihanguskan Rawagede yang mereka anggap sebagai basis pejuang dan markas Kapten Lukas. 

Tentara Belanda tiba di pinggiran Desa Rawagede Senin malam pukul 19.00 WIB, sedangkan Lukas dan pasukannya sendiri sudah bergerak ke Cililitan sejak pukul 15:00 WIB. Jadi yang ada di desa itu hanya beberapa pejuang yang terluka dan para penduduk desa saja. 

Meski begitu, militer Belanda sangat yakin bahwa Kapten Lukas dan pasukannya masih berada di desa tersebut. Informasi mengenai rencana kedatangan pasukan Belanda tersebut kemudian diketahui oleh Lurah Rawamerta, Suminta yang langsung memberitahukan rencana penyerbuan itu kepada seluruh warga desa. 

Warga kemudian melakukan blokade di setiap jalan-jalan desa dengan menggunakan batang-batang pohon. Jembatan-jembatan pun dirusak. Namun upaya tersebut sia-sia karena pasukan Belanda yang dengan menggunakan peralatan berat seperti tank dengan mudahnya melumat semua rintangan yang dibuat warga. Selepas subuh, suara dentuman meriam memecah keheningan membuat warga kocar-kacir. 

Blokade jalan menuju Rawagede


Sejumlah pejuang yang tersisa di Rawageda hanya berjumlah tidak kurang dari 30 orang dengan posisi kelelahan dan tanpa senjata. Sementara di tempat lain, ratusan pejuang yang dua hari sebelumnya berada di tempat tersebut sudah mulai bergerak ke Bekasi dan Jakarta untuk menyerang pos militer Belanda. 

Saat tentara Belanda merangsek masuk ke desa mereka, sebagian penduduk memilih bersembunyi di Sungai Rawagede dengan cara menenggelamkan diri mereka di pinggiran sungai yang cukup dalam setelah diguyur hujan semalaman. Hanya kepalanya saja yang sesekali muncul untuk bernafas. 

Upaya mereka sebenarnya hampir berhasil sampai sekitar pukul 11:00 WIB Belanda tidak menemunkan mereka. Tapi sialnya, salah satu kaki seorang yang sedang bersembunyi di pinggir sungai itu terlihat oleh seorang tentara Belanda. Tanpa ampung, pasukan KNIL dan Belanda langsung menembaki pinggiran sungai dan memerintahkan semuanya untuk keluar dari persembunyianya. 

Mereka yang keluar dari sungai itu berjumlah 12 orang, yang kemudian dijajarkan tiga baris, masing-masing baris berisi empat orang dalam posisi jongkok. Satu persatu mereka kemudian ditanyai tentang keberadaan Kapten Lukas. Namun karena tidak ada satu pun warga yang mau buka mulut, pasukan itu pun kemudian segera menembaki mereka. 

Satu per satu mereka pun roboh diterjang peluru Belanda. Namun dalam peristiwa tersebut ada salah seorang penduduk yang berhasil lolos dari maut, yaitu Sa'ih yang saat penembakan hanya terserempet peluru saja dan ia pun berpura-pura meninggal. 

Sementara itu pasukan Belanda yang lain mulai membumihanguskan Desa Rawagede beserta para penduduk yang tersisa. Sekitar 15 menit usai aksi sadis itu, pasukan Belanda bergerak meninggalkan desa. 

Peristiwa rawagede dipandang dari versi yang lain 

Sejarawan Rusdy Husein memiliki versi yang berbeda, menurutnya pembantaian di Rawagede tidak ada kaitannya dengan perburuan Lukas karena pada bulan Desember itu Kapten Lukas sudah hijrah ke Jawa Tengah. 

Sutan Sjahrir yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri mengeluarkan Instruksi pada November 1947 yang isinya meminta agar Tentara Republik Indonesia (TRI) keluar dari Jakarta karena Jakarta saat itu sudah menjadi Kota internasional. 

Perintah itu pun dituruti, TRI memindahkan markasnya ke Cikampek dan Laskar pindah ke Karawang. Namun pergolakan yang sebelumnya terjadi di Jakarta kemudian bergeser ke Karawang sebab Laskar yang berada di bawah komando Tan Malaka tidak mau melakukan gencatan senjata dengan pihak Belanda. 

Berdasarkan dokumen yang dibaca Rusdy dari Belanda, ada seorang pribumi yang berprofesi sebagai polisi Belanda. Ia memiliki anak seorang petani yang tinggal di Rawagede. Petani itu diculik gerombolan eks laskar, tapi ia berhasil lolos dan menceritakan hal tersebut kepada bapaknya, yang kemudian melaporkannya kepada pasukan Belanda dari Divisi 7 Desember pimpinan Mayor Alfons Wijnen.

Laskar mendengar kabar akan datangnya pasukan tersebut, dan mereka melarikan diri dari Rawagede, sehingga yang diperas dan dibunuh pasukan Belanda adalah rakyat di kawasan Rawagede itu. “Kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan Lukas karena dia sudah pergi ke Jawa Tengah,” kata Rusdy.

Sumber: Detik