16 September 2017

Peran Pesantren dalam Perang Kemerdekaan di Bogor

Peran Pesantren dalam Perang Kemerdekaan  adalah tulisan karya ulama besar KH Sholeh Iskandar yang menggambarkan bagaimana beratnya perjuangan para ulama dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan. Tulisan berikut ini merangkum beberapa situasi-situasi penting yang terjadi pada masa perang kemerdekaan khususnya di wilayah Bogor. 


laskar hizbullah di bogor



Kesaksian KH Sholeh Iskandar seorang komando TNI AD dari Batalyon IV dan VI sector komando IV Siliwangi dalam perang kemerdekaan di wilayah Bogor, Jawa Barat dituliskan dalam tulisannya yang pada awalnya ditujukan dalam seminar "Pesantren Dalam Perang Kemerdekaan" oleh Yayasan Historia Vitae Magistra di Jakarta, Juni 1992. Namun sebelum dibawakan, penulisnya telah meninggal dunia pada April 1992. 

Perlawanan fisik sosial yang pernah terjadi terhadap penguasa kolonial senantiasa melibatkan para kiai dan ulama seperti pemberontakan di Cilegon, Banten 1888 yang dipimpin KH Wasid, begitu pun yang terjdi di Labuan tahun 1926 yang dipelopori oleh KH Asnawi dan KH Tb Ahmad Khatib. Perlawanan terhadap pemerintahan kolonial tersebut tidak hanya dilakukan dalam bentuk perjuangan fisik saja, di awal abad ke-20 misalnya berdiri organisasi sosial Indonesia pertama yaitu Syarikat Dagang Islam yang didirikan pada tahun 1905 oleh kaum santriyyin dari Kota Surakarta.

Kemudian pada tahun 1912, berdiri organisasi politik Indonesia pertama yaitu Syarikat Islam yang kelak menjadi Partasi Syarikat Islam Indonesia (PSII) di tahun 1930, disusul kemudian oleh partai-partai Islam lainnya seperti Persatuan Muslimin Indonesia di Sumatera (1938), dan Partai Islam Indonesia (1938). Selain itu, cukup besar pula peranan organisasi Islam lain seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, dan lain sebagainya. 

Selama masa pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945, para santriyyin ini umumnya memanfaatkan pendidikan keprajuritan yang dihidupkan kembali oleh pemerintah pendudukan militer Jepang dalam bentuk PETA atau Pembela Tanah Air. Angkatan pertama Daidan PETA hampir seluruhnya berisi para ulama, mulai dari KH Abdullah bin Nuh, Kh Syam'un, KH Ahmad Khatib.

Pada saat yang bersamaan dibentuklah barisan Hizbullah yang berpusat di Cibarusa, Bogor. Walaupun Jepang saat itu gencar melaksanakan politik propaganda dengan merangkul umat Islam, namun perlawanan para santri terhadap penguasa militer Jepang tidak pernah terhenti. Pada tahun 1944 di Singaparna, Tasikmalaya terjadi pemberontakan pimpinan KH Zaenal Mustafa. 

Di Bogor, selama periode perang kemerdekaan yang berlangsung sejak 1945 s/d 1949, banyak kiai dan ulama dari pondok pesantren ikut berperang aktif dalam perjuangan tersebut. Bahkan pada malam setelah presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 terjadi pertemuan di Leuwilang yang turut dihadiri juga oleh H. Dasuki Bakri cudanco PETA dari wilayah setempat. Hasil pertemuan tersebut melahirkan dibangunnya Markas Perjuangan Rakyat. 




Kemerdekaan Republik Indonesia disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat, mereka melakukannya dengan berbagai kegiatan yang bermuara pada:

  • Pembentukan pasukan Hizbullah  yang dipimpin oleh E.Effendi dan E.M Kurdi serta pasukan bekas PETA pimpinan H.Dasuki Bakri dan R. Tarmad Atmawijaya.
  • Pelucutan senjata tentara Jepang seperti yang terjadi di Nanggung dan Kracak.
  • Pembangunan pemerintah RI dengan ulama yang berada di garis depan pemerintahan seperti daerah Banten yang jabatan kepala daerah hingga tingkat kelurahan dipimpin oleh para ulama misalnya Residen Banten dijabat KH Ahmad Khatib dari PP Caringin, Bupati Serang dipimpin oleh KH Syam'un dari PP Citangkil, Bupati Lebak Rangkasbitung dipimpin oleh KH Tb Hasan dari PP Kabagusan Maja, dan Bupati Pandeglang dipimpin oleh KH Abdul Hadi dari PP Cimanuk.

Di wilayah Bogor disusun pula susunan pemerintahan di tingkat karesidenan, kotamadya dan kabupaten yang dikoordinasikan oleh R. Husein Sastranegara dan M. Junus, sedangkan jabatan kepala polisi karesiden dan kotamadya Bogor diserahkan kepada tentara sekutu. 

Di Daerah Bogor Barat dilakukan pembubaran pemerintahan tanah partikulir yang kemudian diganti dengan pemerintah RI sampai ke tingkat desa. Di sini para Kiai dan ulama kembali berperan aktif seperti KH Abdul Hamid yang menjadi camat Leuwiliang. 

Bersamaan dengan itu dibangun pula markas-markas perjuangan di pedesaan yang berfungsi untuk menghimpun dan memelihara potensi desa serta mengumpulkan perbekalan sehingga lumbung-lumbung padi akan selalu penuh terisi. Koordinasi perbekalan ini dipimpin oleh E. Sanusi dari Leuwiliang.

Selain itu, dikembangkan juga unit usaha yang bisa membantu dana perjuangan antara lain dengan mengelola pabrik teh di perkebunan Cileluksa, Pasir Madang (Cigudeg) yang produksinya sebagian besar diselundupkan ke daerah pendudukan Belanda untuk ditukar dengan pakaian, obat-obatan, bahan bakar dan sparepart senjata. 

Ada beberapa markas perjuangan di pedesaan yang terkenal antara lain: 

  • Kecamatan Cibungbulang : KH Abdul Hamid, KH Mad Shaleh, HM Parta, KH Saleh Fajar, KH Abdul Mu’thi, KH Sayuti, Ibu Siti Aisyah, dan Moh. Sa’un. 
  • Kecamatan Ciampea:KH Otoy Syafe’I, KH Marga, Muallimin Miftah, KH Anwar Arif, Muhammad Sanusi, H Abdul Hamid, H Abdur Rahim, KH Fachruradji, Mulim Abd. Fatah (gugur), KH Nali, KH Abdus Syukur dan KH Abdul Hamidi. 
  • Kecamatan Ciomas : KH Abdul Karim, Hasan Sanasib, Adun, KH Aceng Falak, Muhammad Hidayat,Abdul Karim dan Asmin Saleh. Kecamatan Leuwiliang: KH Moch Nur, Muallim Masduki, KH Baihaqi, H Moh Khatib, Ojeh Kurnaen, A Syukri, E Muhammad Sanusi, E Moh Kurdi, KH Bakri, KH Iyung dan KH Ace Tabrani. Kecamatan Cigudeg: KH Sarta, H Sukari, H Ukar, H Ismet dan H Usman.
  • Kecamatan Jasinga: O Moh Tahir, E Moh Kahfi, KH Mardana, Kiai Mujtaba, K Ahyar, Amir Husein, KH Jamsari, dan KH Hasbullah. 

Disamping melakukan perlawanan fisik, digerakkan pula beberapa kegiatan non fisik seperti menumbuhkan kepercayaan diri para santri dan pejuang dengan melakukan doa massal, shalat tahajjud, shalat hajat, dan gunut nazillah serta pengumpulan senjata yang terdiri dari tiga buah senjata perang Australia dan Jepang di Gunung Jakimun, dan beberapa senjata buatan Jepang ke danau Lido Cigombong seperti karaben, pistol, granat dan ranjau darat serta mesiu. 

Pada santri dan pejuang yang terdiri dari laskar dan rakyat dibekali pula dengan ruhul jihad yang disertai harapan menjadi syuhadah. Selama masa-masa tersebut, pertempuran terjadi di mana-mana, dan dengan berpedoman kepada strategi Al Quran, mereka berjuang dengan cara bergerilya dalam kelompok-kelompok kecil. Tercatat ada beberapa pertempuran yang telah memakan banyak korban, yaitu: 

  • Penyerangan terhadap pos sekutu dan Belanda di Serpong yang dilakukan oleh barisan masyarakat Banten yang meminta banyak korban. Hal ini dibuktikan dengan adanya Taman Makam Pahlawan Seribu. 
  • Pertempuran di Sindangbarang, Bogor di bawah pimpinan KH Jamsari yang menyebabkan gugurnya sekitar 26 syuhadah.
  • Pertempuran antara Sekutu/Belanda dengan pasukan Hizbullah di Babakan, Parung, Ciseeng tanggal 13 Juni 1946 yang menyebabkan ustad M Muchtar, kompi komandon Iyon Hizzbullah pimpinan Effendi gugur sebgai syuhadah.
  • Penyerbuan terhadap Istana Bogor dan markas sekutu dan belanda di Kota Paris yang dilakukan bersama dengan Tentara Keamanan Rakjat (TKR), dalam peristiwa tersebut KH Jamsari (PP Ciledug, Leuwiliang), KH Emoj Muhammad (PP Kahrekel, Leuwiliang), dan H. Encep Karta gugur sebagai syuhadah. 
  • Pertempuran di Leuweung Kolot (Cibungbulang) yang terjadi antara sekutu dengan pasukanHizbullah pimpinan Saleh Fajar dan Abdur Rahiem. Dalam peristiwa itu pihak sekutu kehilangan sejumlah senjata dan sebuah tank baja. 
  • Pertempuran dengan pasukan sekutu dan belanda di daerah Cihideung (skrg kampus IPB) yang menyebabkan Mayor Jenderal Tarmad Admawidjaja terluka.
  • Pertempuran di Gunung Menyan pimpinan KH Abdul Hamid selama tiga hari yang mengakibatkan pihak sekutu dan belanda mengerahkan serangan udara besar-besaran dan dibumihanguskannya Kampung Pasarean. 

Sesuai persetujuan Linggarjati, posisi pejuang republik di Bogor Barat yang saat itu berada di Markas TKR Ciampea, Polisi Tentara di Cibatok dan Batalyon Hizbullah di Leuwiliang harus berpindah tempat. Markas TKR berpindah ke perkebunan Cianten, Batalyon Hizbullah dan Polisi Tentara harus memindahkan markasnya ke perkebunan Cikasungka, Cigudeg. Hal tersebut tentu sangat merugikan pihak pejuang karena berada di lokasi yang kurang strategis. 

Persetujuan Linggarjati juga memunculkan arus pengungsian dalam jumlah yang sangat besar, sebagian dari mereka berniat meninggalkan kampung dan desanya yang saat itu berada dalam kekuasaan Belanda dan Sekutu. Ada beberapa tokoh nasional di antara para pengungsi tersebut antara lain R.Ipik Gandamana, RE.Abdullah dan Jussi Yusuf. 


Sumber dan Referensi: 
Peran Pesanteran dalam Perang Kemerdekaan: KH Sholeh Iskandar