Bogor: Masa-masa setelah kemerdekaan

Walaupun Republik Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945 namun tidak berarti bahwa perjuangan telah berakhir. Masa-masa setelah kemerdekaan merupakan masa yang paling berat karena selain harus menghadapi kedatangan Belanda yang ingin kembali mencaplok negeri merdeka ini juga harus berhadapan dengan bangsa sendiri. Masa tersebut dikenal sebagai Bersiap, yang merupakan suatu masa cukup pendek dalam perjalanan sejarah yaitu sejak Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu.

Laskar Bambu Runcing di tahun 1945


Masa Bersiap juga kerap dianggap sebagai masa yang sangat kritis dan menentukan dalam sejarah perjalanan bangsa ini, karena masa-masa itu digambarkan sebagai masa yang penuh kekacauan dan sarat akan berabgai aksi kejahatan seperti perampokan, penjarahan, hingga pembunuhan yang digambarkan sebagai Revolusi Sosial. 

Berbagai tindak kejahatan tersebut muncul lantaran adanya kekosongan kekuasaan atau Vacum of Power yang berdampak pada tidak ada yang mampu melakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap situasai dan kondisi saat itu, terlebih lagi Pemerintah Baru Indonesia yang berdiri setelah runtuhnya pendudukan Jepang masih dipandang cukup lemah. 

Masa bersiap ditafsirkan pula sebagai sebuah proses perubahan yang revolusioner, di mana terjadinya suatu gerakan sosial dengan kekerasan dan senjata yang disertai dengan sentimen nasional yang ditujukan terhadap penguasa kolonial yang hendak berkuasa kembali. 

Kalangan ahli dan sejarawan menyimpulkan bahwa masa Bersiap itu berlangsung dari 1 September 1945 s/d 1 Januari 1946. Di saat itu, Rakyat Indonesia serentak bangkit untuk menentang kembalinya penjajah Belanda. Pekik perjuangan yang terdengar di masa itu adalah "Bersiap!", dengan bersenjatakan golok dan bambu runcing serta beberapa senjata api hasil rampasan Jepang mereka menyerang pos-pos milik tentara NICA Belanda. 

Sekitar bulan Oktober 1945 adalah awal terjadinya kekacauan di wilayah Bogor. Di bulan ini banyak terjadi kasus penculikan terhadap orang-orang Eropa yang dilakukan kaum Republikein. 

Walaupun di tahun tersebut otoritas Republik Indonesia sudah ada dan berdiri di Bogor namun mereka tidak dapat mengendalikan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Pengawasan terhadap berbagai aksi kekerasan masih sangat kurang, terutama dalam mencegah para pendukung RI yang melampiaskan emosinya pada orang-orang Eropa dan Indo-Eropa secara berlebihan. Saat itu, dua kamp intemiran atau Kamp Bersiap didirikan di Bogor dan Depok. 

Tanggal 10 - 11 Oktober 1945, sedikitnya 4000 orang datang ke Depok dengan menggunakan berbagai sarana angkutan mulai dari kereta api, truk sampai dengan gerobak sapi atau kuda (kahar). Intelijen Belanda yang melihat hal itu segera melaporkan kedatangan ribuan orang tersebut dengan sepengetahuan aparatur pemerintah dan pihak kepolisian RI. 

Menghadapi situasi yang kian mencekam itu, orang-orang Eropa yang tinggal di Depok meminta bantuan Sekutu di Jakarta, namun hal itu ditolak Sekutu dengan alasan tidak ada perintah resmi. Akibatnya, berbagai aksi penjarahan dan pengusiran orang-orang Eropa pun terjadi di beberapa wilayah di Kota Depok. 

Situasi semakin tidak terkendali, sampai-sampai mereka (para orang-orang Eropa) tidak memiliki tempat untuk bersembunyi yang aman. Terlebih lagi di sekitar hutan pun masih banyak perampok yang siap menjagal dan mengambil hartanya. Dalam laporan pihak intelijen dan keamanan, aksi-aksi tersebut sangat terorganisir yang artinya ada orang atau kelompok tertentu yang berada di balik aksi-aksi kekerasan yang terjadi. 

Dalam kaitannya dengan peristiwa tersebut, sekitar 33 orang Eropa tewas, sedangkan di lokasi lain para lelaki dewasa yang terdiri dari orang-orang Eropa dan Indo di Depok diculik dan dibawa ke Bogor, sehingga hanya menyisakan kaum perempuan dan anak-anak saja yang jika dihitung hanya berjumlah sekitar 1.050 orang. Mereka semua kemudian ditawan dalam sebuah lumbung yang sangat sempit. 

Sikap pasif dari aparatur dan polisi RI membuat aksi-aksi kekerasan yang dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok itu pun semakin meluas. Salah satunya adalah pada tanggal 13 Oktober, sekitar 10 orang warga Depok dibunuh, selain itu semua penduduk Eropa diburu oleh BKR dan para Pelopor (yang dikenali dari pita yang diikatkan pada lengannya). Mereka semua ditangkap dan dikumpulkan di stasiun kereta Depok (Depok Lama), semua perhiasannya dilucuti dan harta mereka di jarah.

Tanggal 16 Oktober 1945, seorang wartawan yang bernama Johan Fabricius pada saat menuju Bogor dari Jakarta dengan menggunakan sepeda motornya , pada saat melewati Depok itulah ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di Depok. Ia pun segera melaporkan penemuannya itu pada pihak Sekutu di Bogor, dan pada sore harinya satu peleton pasukan Gurkha pimpinan Letnan de Winter segera dikirim ke Depok.

Tindakan kekerasan tersebut ternyata tidak hanya ditujukan pada pihak-pihak yang dituduh atau dicurigari sebagai kaki tangan Belanda, tetapi bisa juga menimpa orang-orang republikein. Tidak sedikit pula para perampok atau penjahat yang memanfaatkan keuntungan tersebut untuk kepentingannya sendiri.



Kepala Staf Resimen Bogor/Divisi II TKR saat itu, Mayor A.E. Kawilarang mendengar laporan dari anak buahnya bahwa di Cisarua ada dua orang wanita Menado bersama anak-anaknya yang salah satunya masih bayi yang meminta perlindungan.

Ia pun sempat menemui kedua wanita tersebut, dan berjanji akan membawa mereka ke Bogor untuk dikirim ke daerah yang aman. Namun, pada esok harinya ketika para tentara menjemputnya, rumah kedua wanita tersebut telah dirampok, dan dua orang wanita dan anak-anaknya yang berjumlah 12 orang itu ditemukan mati dengan luka bacokan di sekujur tubuhnya, sedangkan seluruh harta bendanya habis dijarah.

Pada tanggal 11- 12 Oktober malam hari, penduduk Eropa yang ada di Bogor dipaksa untuk bangun dari tidur mereka di bawah todongan senjata. Para pelaku penculikan yang diduga adalah anggota BKR dan Pelopor ini kemudian menempatkan mereka yang terdiri dari laki-laki dewasa dan anak laki-laki di masing-masing sel di penjara tua yang terletak di Paledang.

Dalam peristiwa tersebut, Ketua Palang Merah Internasional Mr. W.A.P.C Pennink ditangkap dan diberondong pertanyaan di Markas BKR tentang tujuan Palang Merah Internasioan dan apakah dia agen NICA, Pennink menjawab bahwa misi dan tujuan Palang merah Internasional adalah bersigat netral, tidak memihak pada pihak manapun.

Penjara Paledang saat itu sebenarnya memiliki kapasitas maksimum 300 orang, namun ada sekitar 1200 lebih tawanan yang ditangkap dari Bogor dan Depok. Alhasil untuk satu ruangan sel yang mustinya diisi oleh enam orang dipaksakan untuk memuat 25 orang, sedangkan ruangan lain yang hanya mampu menampung 47 orang dipaksakan untuk memuat 140 - 160 orang, sisanya dipaksa untuk menetap di luar ruangan dengan sedikit perlindungan dari panas dan hujan.

Selama di penjara itu pula sering terjadi beberapa insiden, mulai dari penganiayaan, perkelahian, sampai penculikan. Pada akhir Oktober 1945, militer Inggris melakukan inspeksi ke Paledang dan menawarkan kerjasama dengan kepala penjara untuk memindahkan para tawanan itu ke kamp-kamp pengungsian. Dalam waktu yang singkat, seluruh tawanan itu pun telah dipindahkan ke kamp-kamp tawanan yang ada di Bogor, yaitu di Kedoenghalang yang merupakan kamp utama, kamp Ursulinenklooster yang merupakan bekas kantor Shucho-kan yang digunakan untuk intemiran wanita, kamp 14 Bataljon di Pabaton, dan kamp di kota-paris.

Suasana semakin mencekam, terlebih beredar isu akan terjadi pembantaian terhadap orang-orang Eropa dan Indo akibatnya penduduk Eropa pun dihantui oleh ketakutan yang sangat. Ternyata kemarahan para pemuda itu kemudian ditimpakan pada tentara Jepang. Di daerah pondokgedeh, Cigombong dekat Ciawi terjadi peristiwa penyerbuan para penuda terhadap kamp tentara Jepang. Beberpa hari kemudian setelah peristiwa tersebut, Letnan Kolonel Kawagishi dan 41 orang tentara Jepang ditemukan telah menjadi mayat dalam sebuah kuburan masal yang berada tak jauh dari lokasi tersebut.

Bahkan para pemuda itu pun tak segan-segan akan menghukum orang-orang republik yang telah nyata mengancam keamanan Bogor, salah satu peristiwa yang terjadi adalah ketika mereka memburu Pak Oente yang sering berbuat onar di kawasan landhuis Dramaga. Pada tanggal 10 November 1945, Pak Oente berhasil dibekuk di daerah Jampang dan dibawa dengan menggunakan truk ke Bogor. Di sini ia diseret dan dibawa ke tengah-tengah kebun dan digantung di atas sebuah paal, sedangkan didekat mayatnya ditempel kertas bertuliskan 'Ini Kaki Tangan NICA'.

Terjadinya beberapa gangguan keamanan, aksi kekerasan dan berbagai peristiwa itu yang terjadi sepanjang bulan Oktober hingga November itu pun membuat ketegangan semakin meningkat. Berbagai insiden antara pihak republikein dengan Sekutu yang dalam hal ini adalah Gurkha dan NICA semakin terus terjadi.

Puncaknya pada tanggal 8 Desember 1945, ketika Inggris mengultimatum agar para pemuda yang saat itu menduduki Istana Bogor dibawah pimpinan A.K. Yusuf untuk segera keluar dari Istana dan menyerahkan Istana pada Sekutu.

Ultimatum sepihak dari Inggris tersebut kontan ditolak oleh pemerintah dan pihak Kemanan RI, meski demikian dengan terpaksa mereka pun meninggalkan Istana karena atas perintah Ketua KNIP saat itu Sutan Sjahrir yang tetap menyarankan untuk bekerja sama dengan Sekutu. Pada waktu itu, seluruh petinggi pemerintahan RI dan keluarganya dipindahkan ke Dramaga dengan kawalan polisi.

Setelah Inggirs menguasai Istana Bogor, pihak Sekutu semakin memperluas kekuasaannya. Kali ini bengkel mobil de Vries dan Pabrik Ban Goodyer yang berada di Jalan Cileboet (Jl Pemuda) di ambil alih, begitu juga dengan Kamp Ursulinenklooster.

Serdadu Belanda mengawal orang-orang pribumi di Jln Sudirman Bogor th 1946


Aksi sewenang-wenang Sekutu itu membuat geram kaum republik, mereka pun segera mengadakan rapat yang dihadiri oleh kalangan pejuang RI, rapat tersebut membahas tentang penyerangan terhadap Sekutu. Pertempuran pun dimulai, para pejuanng menggempur iring-iringan pasukan Sekutu di daerah Bojongkokosan, Sukabumi pada tanggal 9 Desember 1945. TIndakan tersebut dibalas dengan serangan bertubi-tubi ke Cibdak dengan menggunakan pesawat bomber mereka pada tanggal 10 Desember 1945.

Bahkan bukan itu saja, pihak Sekutu kemudian melakukan berbagai aksi penggeladahan pembakaran dan menembaki rumah-rumah penduduk yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut yaitu tanggal 16, 17, dan 18 Desember. Operasi tersebut dilakukan di sekitar Panaragan Kidul, Gang Kepatihan, Gunung Batu dan Lebak. Hal yang sama dilakukan oleh Sekutu di sekitar Ciawi, CInangneng, Ciluar, Depok, Cijeruk, Sindangbarang, Cikereteg, dan Pagentongan. Serangan dan operasi-operasi pembersihan yang dilancarkan oleh Sekutu tersebut berhasil memukul mundur pejuang RI.

Untuk meredakan situasi, Panglima Komandemen I Jawa Barat, Mayor Jenderal ABdul Kadir bersama ajudan Kapten A.J. Mokoginta segera datang ke Bogor dari Purwakarta untuk melakukan perundingan dengan pihak Sekutu. Dalam perundingan tersebut disebutkan bahwa pihak TKR harus keluar dari Bogor demi kelancaran repatriasi tentara Jepang dan APWI dari Bogor dan sekitarnya. Oleh karena itu pimpinan TKR di Keresidenan Bogor memperingatkan agar konvoi 11 truk yang akan melewati Cimande menuju Jakarta tidak diganggu, karena isinya adalah para serdadu Jepang yang akan dikembalikan ke negeri asalnya.

Hanya polisi negara dan polisi tentara yang boleh berada di Bogor untuk melakukan patroli bersama Polisi Militer Serikat. Dan mulai saat itu, Inggris menganggap kelompok yang bersenjata di Bogor adalah kaum ekstrimis yang harus dibasmi. Sementara itu, di luar Kota Bogor, TKR masih bisa bergerak dengan leluasa. Pertempuran baru mereda setelah pasukan Sekutu meninggalkan kota-paris.


Sementara itu, di kalangan pemerintahan sendiri terjadi perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan di antara kaum repulikein. Oleh lantaran Istana Bogor telah jatuh, maka pemerintahan pun dilakukan di luar kota Bogor untuk sementara, dan tanpa diduga sesampainya di Dramaga, pemerintah karesidenan Bogor menghadapi aksi kudeta yang ilakukan oleh Ki Narija yang mendapat dukungan dari Lasykar Gulkut (Gulung Bukut), pimpinan Tje Mamat. Mereka menangkap Residen Bogor R. Barnas Tanuningrat dan Kepala Polisi R. Enoh Danubrata lalu mencopot jabatannya. Setelah itu, semua pejabat pemerintah RI yang ada di Bogor diganti oleh Ki Nariya-Tje Mamat. Ki Nariya kemudian mundur ke Dramaga, setelah kesatuan polisi dan aparatur setempat dilucutinya dan diganti oleh orang-orangnya. Sebagai catatan, Tje Mamat dengan lasykarnya itu sampai ke daerah Bogor, tepatnya Leuwiliang, karena melarikan diri setelah aksi daulatnya di Banten mengalami kekalahan.

Aksi Ki Nariya dan kawan-kawannya nyaris mendapat pengakuan dari pemerintah RI di Jakarta yang kurang mendapat informasi tentang perkembangan sosial-politik di wilayah sekitar Jakarta-Bogor. Namun setelah menerima laporan dari Bogor, pimpinan di Jakarta memerintahkan agar pimpinan TKR di wilayah Bogor untuk segera menindak tegas gerakan Ki Nariya-Tje Mamat.

Setelah menerima perintah itu, pasukan gabungan dari Resimen Bogor yang terdiri dari Batalyon II pimpinan Mayor Toha, Batalyon III pimpinan Kapten Haji Dasuki Bakri, Polisi Istimewa pimpinan Muharam Wiranata Kusuma, Lasykar Hizbullah pimpinan E. Affandi, Lasykar Bogor pimpinan Dadang Sapri, Pasukan Jabang Tutuka pimpinan R.E. Abdullah, dan Lasykar Leuwiliang pimpinan Sholeh Iskandar berhasil mengepung dan menyergap Ki Nariya dkk di Dramaga.

Tje Mamat sendiri berhasil meloloskan diri dari sergapan pasukan gabungan, akhirnya berhasil disergap oleh Lasykar Leuwiliang pimpinan Sholeh Iskandar. Selanjutnya Tje Mamat dengan lasykarnya yang merupakan buronan dari Banten, dikirimkan ke Komandemen I Jawa Barat yang berkedudukan di Purwakarta (Sri Handajani Purwaningsih, 1984: 91).

Sungguh berat perjuangan pihak republik saat itu, selain harus menghadapi bangsanya sendiri, mereka pun harus bertempur melawan para Sekutu. Puncaknya pada tanggal 25 Desember 1945, terjadi pertempuran sengit di jalan banten antara pasukan Inggris dibantu Gurkha dengan pasukan pejuang dari tentara dan rakjat. Dalam peristiwa tersebut Kapten Muslihat gugur setelah dihujan beberapa tembakan dari tentara Sekutu dan Gurkha.

Awal tahun 1946, kondisi pemerintahan Bogor berangsur-angsur pulih, terutama Polisi dan TKR yang telah bersusah payah menindak tegas komplotan Ki Narija.

Di saat yang bersamaan, pasukan Sekutu memperkuat pertahanannya di kantor polisi. Beberapa tembok dilubangi dan dipasangi mitralyur. Penjagaan ketat pun dilakukan di beberapa wilayah, termasuk di pintu-pintu masuk ke dalam kota seperti di jembatan situduit, kedoenghalang, Bank Rakyat dan Ciburial.



Penjagaan ketat pun dilakukan di Istana Bogor, kamp Batalion 12, Kamp kedoenghalang (sempur), Kantor Pajak, Sekolah Guru dan Gereja Katolik. Sedangkan di sekitar Kebun Raya dipasangi dengan kawat-kawat listrik bertegangan tinggi serta sebuah granat yang digantung setiap jarak 5 meter.

Tentara GURKHA pun semakin intensif melakukan penggeladahan yang berujung pada aksi kekerasan seperti penjarahan, penembakan rakyat, dan pemerkosaan terhadap para perempuan Indonesia.

Perbuatan mereka diprotes keras oleh Residen, mereka mengajukan tuntunan yang isinya antara lain, menyuruh pasukan Gurkha dan kaum Indo untuk menyerahkan kembali senjata polisi yang dijarah mereka, membebasakan orang yang telah mereka culik, megembalikan barang-barang jarahan, agar pasukan Gurkha segera meninggalkan Kebun Raya demi kemanan.


Sumber referensi:

  1. Masa Bersiap di Kabupaten  Bogor, Makalah Seminar Sehari tentang Kajian Lahirnya Bogor, Muhammad Iskandar, 2008.
  2. Bersiap dan Daulat di Bulan Desember 1945, Milist Nasional-list, Rosihan Anwar.
  3. Bersiap | serbasejarah.wordpress.com
  4. Kit.lv
  5. Tropen museum

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close