13 August 2017

Sang Saka Bukan Kain Tenda Warung

Beberapa waktu lalu muncul informasi seputar kain bendera pusaka yang digunakan dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Disebutkan bahwa bendera yang dikibarkan itu berasal dari kain seprai warna putih dan kain tenda warung soto yang berwarna merah. Tapi dalam bukunya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, yang terbit tahun 1978, Fatmawati pernah bercerita mengenai asal-usul sang saka tersebut. 

fatmawati menjahit bendera pusaka
Ibu Fatmawati menjahit bendera pusaka

Menurut keterangan Fatmawati, pada satu hari di bulan Oktober 1944 saat dirinya tengah mengandung sembilan bulan dirinya (Guntur lahir tahun 1944) kedatangan seorang perwira Jepang yang membawa kain dua blok. 

"Yang satu blok berwarna merah, sedangkan yang satunya lagi berwarna putih, mungkin dari kantor Jawa Hokokai," kata Fatmawati. 

Dengan kain tersebut, Fatmawati kemudian menjahit sehelai bendera merah putih dengan menggunakan mesin jahit tangan karena " saat itu tidak diperbolehkan mempergunakan mesin jahit kaki:, ujarnya. 


Dikutip dari oase.kompas.com tanggal 24 Juli 2011, Sukmawati Sukarnoputri mengungkapkan bahwa Fatmawati menjahit sembari sesekali terisak dalam tangis karena tidak percaya kalau Indonesia akhirnya merdeka dan memiliki bendera serta kedaulatannya sendiri. 

Lalu siapakah orang yang telah mengantarkan kain merah putih itu kepada Fatmawati. Ia adalah seorang pemuda yang bernama Chaerul Basri. Chaerul mendapatkan kain tersebut dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda). 

Sekitar tahun 1978, Hitoshi Shimizu pernah diundang oleh Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan karena dianggap berjasa dalam meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang. Setelah menerima penghargaan tersebut, Shimizu bertemu dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang. 

" Dalam kesempatan itulah, ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu," kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat

Pada kesempatan yang lain, dalam kunjungannya lagi ke Indonesia, Shimizu pernah bercerita kepada Chairul Basri bahwa dirinya pernah memberi kain merah putih kepadanya untuk diserahkan kepada ibu Fatmawati. Kain itu didapatna dari sebuah gudang Jepang yang ada di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat dekat bekas bioskop Capitol. "Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma," kenang Chairul. 

Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

Ketika Fatmawati akan melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya, terdengar teriakan bahwa bendera belum ada. 

"Kemudian aku berbalik untuk mengambil bendera yang aku buat semasa Guntur masih dalam kandungan satu setengah tahun yang lalu, Bendera itu pun aku berikan pada salah satu yang hadir di tempat depan kamar tidur. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro mantan walikota DKI), Suhud, Kolonel Latif Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku," kata Fatmawati. 

Setelah Sukarno membacakan teks proklamasi, Latif Hendraningrat dan Suhud kemudian mengerek bendera pusaka merah putih. 

Baca juga: Momen Langka Detik-Detik Proklamasi Dalam Bingkai Foto