17 August 2017

Naskah Asli Proklamasi dirubah oleh Sayeti Melik

Pembuatan naskah Proklamasi dibuat dengan tulisan tangan oleh Sukarno. Namun sebelum diajukan pada para anggota PPKI yang saat itu tengah menunggu di ruangan tengah, naskah itu terlebih dahulu harus diketik ulang. Sayeti Malik yang kebetulan masuk ke ruangan diberi tugas untuk mengetiknya. 

mengetik naskah proklamasi



Dalam Wawancara dengan Sayuti Melik karya Arief Priyadi, Sayuti Melik menyebut bahwa Sukarno langsung memintanya untuk mengetik naskah Proklamasi. Perintah Sukarno saat itu adalah: "Ti, ti, tik, tik!," 

Pengakuan Sayuti Melik tersebut diamini juga oleh BM Diah, wartawan harian Asia Raya. "Bung Karno memanggil Sayuti Melik yang kebetulan lewat ruangan itu: "Ti, ti, tik ini," kata Bung Karno sambil melambai-lambaikan selember kertas yang berisikan teks Proklamasi." 

Sayuti kemudian menghampiri meja Sukarno dan menerim konsep teks tersebut. "Dia menuju ke ruang lain yang ada di meja tulis dan mesin tik. Saya berdiri di belakang Sayuti ketika dia mengetik," kata BM DIah dalam biografinya, BM Diah Wartawan Serba Bisa karya Toeti Kakiailatu. 

Sayuti Melik mengungkap bahwa naskah Proklamasi tidak bisa langsung diketik karena di rumah Maeda tidak tersedia mesin tik. Tetapi ada sumber yang mengatakan bahwa mesin itu sebenarnya ada tai berhuruf kanji sehingga tidak bisa digunakan. Karena itu pula, Satzuki Mishima, pembantu Maeda dengan mengendari jeep segera pergi ke kantor militer Jerman untuk meminjam mesin tik mereka. Di tempat itu, Satzuki bertemu Mayor Kandelar, perwira Angkatan Laut Jerman yang lalu meminjamkan mesin tik tersebut. 

Dengan ditemani BM Diah, Sayuti seger mengetik naskah Proklamasi itu di ruangan bawah tangga dekat dapur. Dia mengetik naskah Proklamasi dengan melakukan beberapa perubahan seperti "tempoh" menjadi "tempo", kalimat "wakil-wakil bangsa Indonesia" dirubahnya menjadi "Atas nama Bangsa Indonesia" lalu menambahkan nama "Soekarno-Hatta", serta "Djakarta, 17-8-05" menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05" . 

Angka tahun 05 yang terdapat dalam teks Proklamasi sebenarnya merupakan singkatan dari 2605 yang merupakan tahun showa Jepang yang sama dengan tahun 1945, jadi bukan salah ketik seperti yang dianggap oleh sebagian orang. 
Hasil perubahan teks Proklamasi tersebut adalah sebagai berikut: 

PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-2 yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17, boelan 8 tahoen 05
Atas nama Bangsa IndonesiaSoekarno-Hatta

Sayuti Melik melakukan tugasnya itu dengan tergesa-gesa sehingga hasil ketikannya menjadi tidak rapi dan agak mencong (tidak lurus). Sedangkan konsep naskah asli yang ditulis oleh Sukarno ditinggalkannya begitu saja di meja dekat mesin tik. Setelah naskah Proklamasi itu disetuji barulah Sukarno dan Hatta membubuhkan tanda tangannya. 

“Karena tergesa-gesa tadi maka tidak terpikirkan perlunya mengetik rangkap untuk arsip. Jadi hanya saya buat satu lembar saja,” kata Sayuti Melik. “Dengan demikian naskah yang resmi adalah naskah yang saya ketik yang kemudian dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10.00 pagi. Sedangkan naskah yang masih berupa tulisan tangan Sukarno itu sebetulnya baru konsep.”

“Setelah konsep saya ketik, saya tinggalkan begitu saja di dekat mesin ketik dan ternyata tidak saya temui lagi. Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah,” kata Sayuti. “Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi, mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan.”



Untuk terakhir kali, BM Diah melongok lagi ke tempat Sayuti Melik mengetik. “Saya melihat teks asli (konsep, red) itu tergolek di meja. Karena rasa gembira, teks asli itu terlupakan. Kertas itu kemudian saya ambil, saya lipat baik-baik dan kemudian saya masukkan ke dalam kantung. Empat puluh tujuh tahun lamanya saya simpan teks asli itu dan selalu saya bawa ke mana saja saya berkeliling dunia.” BM Diah baru menyerahkan naskah konsep Proklamasi tulisan tangan Sukarno itu kepada Presiden Soeharto pada 1993.

Referensi: Berbagai sumber