05 July 2017

Sejarah hotel yang berganti nama hingga enam kali

Sejarah perjalanan Kota Bogor tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sebuah hotel yang dahulu sangat terkenal yaitu Hotel Salak. Hotel ini juga merupakan salah satu hotel tertua made in kolonial yang masih berdiri hingga saat ini. Hotel yang dulu pernah disewa oleh sastrawan terkenal Iwan Simatupang ini bahkan pernah mengalami perubahan nama hingga enam kali.

hotel salak



Pada awal dibangunnya sekitar tahun 1856, hotel ini bernama Binnenhof  hotel atau Dibbets. Pembangunannya dimulai bersamaan dengan direnovasinya Buitenzorg Palais (Istana Bogor) oleh Gubernur Jenderal Albertus Jacobus Duymaer van Twist yang berkuasa tahun 1851-1856. Renovasi istana dilakukan sehubungan dengan rusak parahnya beberapa bagian bangunan istana akibat gempa besar yang terjadi tahun 1834.

Pembangunan dan pengelolaan hotel baru tersebut dilakukan pula oleh keluarga sang Gubernur Jenderal. Pada masanya hotel ini dianggap sebagai hotel yang cukup berkelas karena lokasinya yang dekat dengan komplek istana sehingga kerap menjadi tempat peristirahatan para tamu sang Gubernur. Di samping itu, hotel ini juga sering digunakan sebagai lokasi pertemuan bisnis dan rapat-rapat yang membahas administrasi pemerintahan.



Pada tahun 1913, Hotel Binnenhof mengalami masa-masa suram sampai-sampai namanya kemudian diganti menjadi NV American Hotel. Namun beberapa tahun kemudian hotal ini dinyatakan bangkrut.

Tahun 1922, hotel ini kemudian dilikuidasi oleh E.A Dibbets sang manajer yang juga pemilik saham terbesar NV American Hotel. Pada akhirnya sang manajer kemudian mengganti namanya kembali ke asal yaitu Dibbets Hotel.

Sekitar tahun 1932, hotel ini kembali berganti kepemilikan. Pemilik baru hotel ini kemudian berafiliasi dengan Hotel Bellevue yang lokasinya tidak jauh dari Hotel Dibbets dan kemudian mengganti namanya menjadi Bellevue-Dibbets Hotel.



Di masa pendudukan Jepang dari tahun 1942 - 1945, Hotal yang memiliki 54 kamar ini digunakan sebagai markas Kempeitai (Polisi Militer). Di masa itu, semua bangunan penting tak terkecuali Hotel ini dicat dengan warna yang lebih gelap untuk mengelabui musuh dari udara.

Setelah kemerdekaan pada tahun 1948 hotal ini diserahkan pada pemerintah Indonesia. Sebagai negara dengan pemerintahan yang masih baru, bangunan hotel ini sempat terlantar sampai kemudan pada tahun 1950 hotal ini mulai direnovasi dan memiliki nama baru yaitu Hotal Salak sesuai dengan lokasinya yang berada di kaki gunung Salak.

Pada bulan September 1998 hotal ini kembali mendapatkan nama barunya yang masih digunakan hingga kini yaitu Hotel Salak The Heritage.