04 July 2017

Sejarah Balitvet Bogor

Sejarah Balitvet yang terletak di Jl RE Martadinata 30 ini tidak lepas dari perjalanan sejarah yang mengitari Bangsa ini, mulai dari masa kolonial, masa setelah kemerdekaan dan era reformasi.bahkan selama beberapa periode BBalitvet telah berganti nama hingga 10 kali.  

Sebagai balai penelitian milik pemerintah, BBalitet menjadi pusat studi dan penelitian untuk menyelidiki penyakit-penyakit hewan. Dalam perkembangannya balai besar ini mampu menghasilkan teknologi strategis di bidang veteriner (virologi, bakteriologi, patologi, parasitologi, toksilogi, mikologi, epidemiologi, obat hewan, bioteknologi dan plasmanutfah) dalam pengendalian penyakit.

[caption id="" align="aligncenter" width="600"]Sejarah panjang Balai Besar Penelitian Veteriner (BBALITVET) di Bogor Foto komplek Balitvet dilihat dari udara[/caption]

Sejarah berdirinya BBalitvet ini pun ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang, yang dimulai dari masa-masa kolonialisme Hindia Belanda, Pra Kemerdekaan, Paska Kemerdekaan dan Paska Reformasi. Dalam perjalanannya pula, Balai Besar ini telah mengalami pergantian nama sebanyak 10 kali, yaitu: 

  1. Veeartsenijkundig Laboratorium (V.L.) 1908

  2. Veeartsenijkundig Instituut (V.I.) 1927

  3. Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) 1942

  4.  Veeartsenijkundig Instituut NICA 1947

  5. Lembaga Penyakit Hewan (LPH) 1950

  6. 6. Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH) 1955

  7. Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH) 1962

  8. Balai Penelitian Penyakit Hewan (BPPH) 1980

  9. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) 1984

  10. Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor (Bbalitvet) 2006

Sejarah balai ini dimulai dengan didirikannya sebuah lembaga penelitian khusus bidang veteriner oleh pemerintahan kolonial yaitu Veertsenijkundig Laboratorium te Buitenzorg yang disingkat V.L di Cimanggu Kecil pada bulan Juni 1908.











[caption id="" align="alignnone" width="600"]Cimanggu kecil tahun 1910 Cimanggu kecil tahun 1910[/caption]

Pembangunan balai ini pun tidak lepas dari akibat dibubarkannya perusahaan pengeruk kekayaan bumi Indonesia yaitu Verenigde Oost Indische Compagnie atau VOC pada tahun 1800, dan sejak itu pada abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda tak henti-hentinya dihadapkan pada beragam permasalahan yang muncul baik dalam bidang politik ataupun sosial budaya.

Dalam bidang politik, mereka harus berhadapan dengan perlawanan rakyat  di berbagai daerah mulai dari Perang Diponegoro (1825-1830), Ekspedisi Bone (1825-1859), Ekspedisi Bali (1846-1849), Perang Aceh (1872-1898), Ekspedisi Lombok (1894), dan sebagainya. Sedangkan dalam bidang sosial - ekonomi, kemampuan para ahli Belanda yang berbekal pendidikan dari Eropa ternyat tidak mampu mengatasi dan memecahkan segala macam masalah dan kendala yang timbul dalam situasi dan kondisi alam tropis seperti di Indonesia. Untuk menangani berbagai permasalahan tersebut dibangunlah sebuah balai penelitian.











[caption id="" align="alignnone" width="677"]Het-Veeartsenijkundig-Instituut-Buitenzorg Het-Veeartsenijkundig-Instituut-Buitenzorg[/caption]

Setelah kedatangan militer Jepang di Bogor tanggal 6 Maret 1942, kekuasaan Belanda atas bangunan dan infrastruktur penting mulai diambil alih. Termasuk juga gedung balai penelitian yang sebelumnya bernama Veeartsenijkundig Instituut  ini pun diambil alih dan diduduki oleh pihak Jepang, selanjutnya mereka mengganti namanya menjadi Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) yang kemudian dirubah lagi menjadi Lembaga Penyakit Hewan (LPH). 











[caption id="" align="aligncenter" width="651"]prasasti jepand di bbalitvet Prasasti peninggalan Jepang yang dibuat untuk menghormati hewan percobaan yang digunakan untuk penelitian. Foto: perpustakaan bbalitvet[/caption]

Setelah berakhirnya kekuasaan Jepang yang menjadi akhir dari masa-masa kolonialisme, di bulan Desember 1945 Pemerintahan RI pimpinan Presiden Soekarno melalui Menteri Kemakmuran saat itu menunjuk Drh. R. Djaenoedin sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi pimpinan balai penelitian ini.

Perubahan nama balai dan penggantian susunan keorganisasian kembali terjadi. Tahun 1950 balai ini menjadi Lembaga Penyakit Hewan (LPH) dan di tahun 1955 diganti menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH), dan pada tahun 196 namanya kembali berganti menjadi Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH).

Masa-masa setelah reformasi balai penelitian ini berkembang begitu pesat, terutama dalam perkemangan fisik, status dan prasarana penelitian yang dimilikinya. Untuk memaksimalkan kinerja dan penelitian, maka pada tahun 2006 melalui Peraturan Menteri Pertanian No.15 tahun 2006 balai penelitian ini berganti nama menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner (BBalitvet) yang ditetapkan dengan status eselon II. 


Selama masa itu pula, perkembangan fisiknya menjadi lebih pesat terutama dengan selesainya pembangunan Laboratorium Zoonosis yang mulai dibangun sejak tahun 2002. 



Alamat Balai Besar Penelitian Veteriner
Jl. R.E. Martadinata No. 30 Kotak Pos 151
Bogor 16114. Jawa Barat. Indonesia
Telp: 0251 - 8331048, 8334456
Fax: 0251 - 8336425

Komentar: 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post