30 July 2017

Potongan koran tempo dulu yang menuliskan peristiwa heroik KaptenMuslihat

Perjuangan Kapten Tubagus Muslihat yang gugur ketika berusaha menjaga kehormatan bangsanya dari cengkeraman penjajah tidak hanya tertuang dalam diorama di Musem Perjuangan Kota Bogor saja tetapi juga diabadikan dalam beberapa surat kabar nasional yang terbit di masa kemerdekaan. Koran-koran tersebut bahkan menuliskan beberapa peristiwa penting mengenai kiprah sang Kapten semasa hidupnya.

 KaptenMuslihat



Museum Perjuangan Bogor dan Museum Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyimpan setidaknya tiga buah koleksi potongan surat kabar tempo dulu yang memuat kisah mengenai perjuangan Kapten Muslihat. Koran-koran tersebut adalah Tjahaja terbitan 19 Agustus 1945, Merdeka terbitan tanggal 5 Oktober 1945, dan Gelora Rakjat yang terbit pada tanggal 29 Desember 1945.

Isi dari klipingan / potongan koran-koran tersebut antara lain memberitakan sosok Tubagus Muslihat yang memegang peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan setelah Presiden Sukarno membacakan teks proklamasi di Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Salah satu isi dari berita tersebut menyebutkan bagaimana dahsyatnya perjuangan Kapten Muslihat saaat berusaha merebut markas tentara Jepang di Leuwiliang, Bogor yang membuat musuh kelabakan.

Berikut isi berita dari tiga klipingan koran-koran tempo dulu yang memberitakan perjuangan sang kapten seperti dikutip dari bahasa aslinya yang masih menggunakan ejaan lama:

Koran Tjahaja, 19 Agoestoes 1945 menulis:
"Pelatihan perwira PETA jang dipimpin oleh Nippon membawa angin segar bagi kaoem pribumi pada awal kemerdekaan. Pelatihan terseboet melahirkan sedjoemlah tokoh penting jang memboeat perjoeangan semakin berkibar seperti, Ibrahim Adjie, Doele Abdoellah, Moeslihat dan Dasoeki Basri. Khoesoes untuk Moeslihat, ia kemoedian mendjadi salah satoe jang poenya peran besar. Pada saat berita proklamasi tersebar, ia bersama Moehammad Sirodj bertindak tjepat untuk meminta Nippon menjerahkan gedung Bogor Shuchokhan kepada para pemoeda."

Versi EYD:

Pelatihan perwira PETA yang dipimpin oleh Nippon (Jepang) telah membawa angin segar bagi kaum pribumi di awal-awal kemerdekaan. Pelatihan tersebut melahirkan beberapa tokoh penting yang membuat perjuangan semakin berkibar seperti Ibrahim Adjie, Dulu Abdullah, Muslihat, dan Dasuki Basri. Khusus untuk Muslihat, Ia kemudian menjadi seorang yang memiliki peranan sangat besar. Setelah kabar mengenai proklamasi kemerdekaan RI tersebar, Ia bersama Muhammad Sirodj bertindak cepat dengan meminta tentara Nippon menyerahkan gedung ogor Shuchokhan kepada para pemuda.

Koran Merdeka, 5 Oktober 1945 menulis:
"Peristiwa penting kemoedian banjak terdjadi pada boelan September, Stasioen Bogor dan pos-pos kereta api di loear Bogor, diambil alih oleh pemoeda jang terdiri dari Lasykar 33 pimpinan Harun Kabir, Shudancho Leptoe Moeslihat setjara kompak menjerang markas Kidobutai di Nanggung, Leuwiliang. mereka dengan gagah merampas 11 ekor koeda, empat mobil penjedia sendjata, seboeah pistol, dan 16 blok kain merah-poetih. Kemoedian mereka menawan 253 orang tentara Nippon, jang kemoedian diserahkan kepada Kepala BKR. Di tempat lain Lasykar Rakjat dan Barisan Pelopor menjerang tentara Nippon jang masih ada di lapangan Cikoleang. Serangan ini berhasil memoekoel moendoer tentara Nippon sampai wilajah perbatasan."

Versi EYD:

Banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan September.Stasiun Bogor dan pos-pos kereta api di luar Bogor telah diambil alih oleh pemuda yang terdir idari lasykar 33 pimpinan Harun Kabir, Shudancho Leptu Muslihat secara kompak menyerang markas Kidobutai di Nanggung, Leuwiliang. Mereka dengan gagahnya berhasil merampas 11 ekor kuda, empat kendaraan penyedia senjata, sebuah pistol, dan 16 peti kain merah putih. Mereka juga menawan 253 orang tentara Nippon (Jepang) yang kemudian diserahkan kepada kepala BKR. Sementara di tempat terpisah, Lasykar Rakyat dan Barisan Pelopor menyerang tentara Nippon yang masih ada di lapangan Cikoleang. Serangan tersebut berhasil memukul mundur pasukan Jepang sampai ke wilayah perbatasan.

Koran Gelora Rakjat 29 Desember 1945 menulis:
"Leptoe Toebagoes Moeslihat mendjadi sosok jang mengoeselkan oentoek menjerang disaat perajaan Natal. Orang Eropa dikenal memiliki tradisi meminoemm anggoer secara kebanjakan pada malam perayaan Natal. Hal ini membuat mereka dalam kondisi yang tidak dalam kondisi terbaik esok harinya. Kemoedian penjerangan itoepoen terdjadi pada wilajah djalan Banten sekitar wilajah rel. Pada perjoengan terseboet, pedjoeang Bogor berhasil memoekoel moendoer Sekoetoe. Jang namanja perdjoengan selaloe beroedjoeng pengorbanan. Ketika rakjat Bogor beloem sepenoehnja merajakan kemenangan, sang pedjoeang malah tertembak dan beloem djelas kabarnja. Kabar terakhir, Ia diselamatkan kerabatnja, Dr Marzoeki Mahdi"

Versi EYD:

"Leptu Tubagus Muslihat menjadi sosok yang (pertama kali) mengusulkan untuk menyerang disaat perayaan Natal. Orang Eropa dikenal memiliki tradisi meminum anggur secara kebanyakan (berlebihan) pada malam perayaan Natal. Hal ini membuat mereka (berada) dalam kondisi yang tidak dalam kondisi terbaik esok harinya. Kemudian penyerangan itupun terjadi pada wilayah Jalan banten sekitar wilayah rel (dekat pintu kereta api Jl Kapt Muslihat). Pada perjuangan tersebut, pejuang Bogor berhasil memukul mundur Sekutu. (Namun) yang namanya perjuangan selalu berujung pengorbanan. Ketika rakyat Bogor belum sepenuhnya merayakan kemenangan, sang pejuang malah tertembak dan belum jelas kabarnya. Kabar terakhir, Ia diselamatkan (oleh) kerabatnya, Dr Marzoeki Mahdi."


Video Youtube koleksi: Dunia Kita (silakan subscribe untuk mendapatkan beragam video sejarah dan kisah-kisah menarik lainnya)

Komentar: 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post