10 July 2017

Kisah Obelisk megah di Kuburan Belanda Kebun Raya Bogor

Jika berkunjung ke kawasan Kebun Raya Bogor dan kebutulan melewati area pekuburan Belanda anda pasti akan menemukan sebuah obelisk yang berdiri megah di antara batu-batu nisan lainnya. Siapa gerangan orang yang dimakamkan di tempat itu dan mengapa nisannya terlihat lebih megah ketimbang nisan sang gubernur jenderal?





Melihat kemegahan obelisk di pemakaman Kebun Raya Bogor, penulis langsung teringat pada sebuah obelisk lainnya yang sayangnya sudah dihancurkan yang berada di pusat Kota Bogor. Namun obelisk yang berada di area Kebun Raya ini masih berdiri kokoh hingga sekarang meskipun telah berumur ratusan tahun.

Tulisan pada nisan tersebut bertuliskan MR. A. Prins, seorang ahli hukum Belanda yang pernah menjadi pejabat sementara Gubernur Jenderal Hindia Belanda yakni pada tahun 1861 dan 1866. Yang menarik adalah walaupun Prins sudah dua kali memegang jabatan tersebut namun beliau belum juga dilantik secara resmi oleh Kerajaan.

Nama Prins terukir di batu nisannya lengkap dengan gelar doktor di bidang hukum, Meester in de Rechten Ary Prins. Lahir di Schiedam pada Rabu, 28 Agustus 1816. Jabatan terakhir Prins sebelum mangkat adalah wakil presiden Dewan Hindia Belanda. Prins wafat pada usia 50 tahun di Batavia pada Senin, 28 Januari 1867 dan dimakamkan di dalam area botanische tuin atau Kebun Raya. Pada inskripsi tersebut juga dituliskan bahwa tugu memorial ini dibangun sebagai bentuk penghormatan dari jandanya, anak dan anak angkat, kawan dan para pengagumnya.

Melihat nisannya yang jauh lebih megah dibandingkan nisan lainnya termasuk milik sang gubernur jenderal Dominique Jacques de Eerens (1781-1840) bisa dipastikan kalau sosok Ary Prins ini berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang. Keluarga dan koleganya lah yang memesan nisan obelisk ini kepada Devillers & Co dengan ongkos yang sudah barang tentu tidak murah. Konon nisan tersebut dikirimkan langsung lewat kapal dari Rotterdam ke Sunda Kelapa, Batavia. Setelah dibawa ke Buitenzorg (Bogor) dengan menggunakan kereta kuda.

Keluarga Prins sangat dikenal luas, sang ayah juga bernama Ary Prins yang adalah seorang pengusah dan pemilik kapal, tapi juga wakil konsul Denmark merangkap sebagai anggota Dewan Kotapraja Schiedam. Sedngkan ibunya bernama Jacoba Helena Hamel. Sebagai anak orang terpandang, wajar kalau Prins kemudian berhasil meraih gelar doktor pada ilmu hukum di Universiteit Leiden pada 14 Mei 1838.

[caption id="attachment_192" align="alignleft" width="243"]M.R. Ary Prins M.R. Ary Prins[/caption]

Hampir setahun setelah Prins mendapatkan gelar doktornya, dia kemudian berangkat ke Hindia Belanda dan tiba di pelabuhan Sunda Kelapa pada 6 Maret 1839. Sejak menjejakkan kakinya di tanah Jawa, Prins memiliki karier yang cukup dinamis. Dia sempat diangkat sebagai notulis tersumpah di Raad van Justitie (Pengadila Tinggi) di Surabaya dan empat bulan berikutnya dia sudah bekerja sebagai Panitera dan bendahara di Rechtbank van Omgang (Pengadilan Negeri) di Semarang.

Di Surabaya pula Prins menikahi seorang gadis bernama Marie Anne Pietermaat pada 29 April 1840. Mertua Prins adalah pejabat Residen Surabaya setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai Residen Manado yang turut mengawasi pemindahan Pangeran Diponegoro dari Fort Amsterdam di Manado ke Fort Rotterdam di Makassar.

Karier Prins melejit setelah berada di Batavia. Pada November 1846, Prins mendapat amanat untuk bekerja sebagai notulis di Hoogerechtshof (Mahkamah Agung). Satu tahun kemudian dia menjabat sebagai sekretaris jenderal di lembaga yang sama.

Di Kalimantan bagian barat, pemberontakan orang-orang Cina pecah pada 1850. Perkaranya, orang-orang Cina, yang umumnya bekerja menambang emas dan berdagang candu itu menolak membayar pajak. Bahkan, di Distrik Sambas, mereka mendirikan republik pertama di Asia Tenggara: Kongsi Langfang.

Sebagai komisaris pemerintah, Prins dikirim ke Kalimantan bagian barat dan berjejak di Sambas pada Februari 1853. Setelah menyelidiki situasi permasalahan di sana, dia menganggap perlu adanya ekspedisi ke Sepawang oleh pasukan Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Sepawang dapat dikuasai tanpa kesulitan berarti. Ketika Prins hendak meninggalkan Sepawang, tiba-tiba rumahnya diserang para pemberontak Cina. Dia selamat lantaran ada detasemen militer yang tanpa sengaja menjumpai peristiwa itu. Pada Mei, Prins kembali ke Sambas dan menuju Batavia. Atas usulannya, muara-muara sungai di kawasan yang bergejolak itu mulai diblokade oleh KNIL.

Letnan Kolonel Augustus Johannes Andresen, kelak menjabat sebagai Komandan KNIL pada periode 1865-1869, berhasil memberangus pemberontakan Cina. Sekali lagi, Prins dikirim ke pantai barat Kalimantan. Dia mengatur pemerintahan dan mengadakan kontrak-kontrak baru dengan raja di sepanjang Sungai Kapuas. Ketika dia tiba pada Juli 1854, pemberontakan kembali pecah di Monterado, kini Kabupaten Bengkayang. Pada masa itu, Monterado memang pusat pertambangan emas di pantai barat Kalimantan. Prins hanya perlu sekali lagi kembali ke kawasan ini pada tahun berikutnya untuk memastikan pemberontakan telah sepenuhnya padam. Kelak, dia diangkat menjadi anggota Raad van Indie atau Dewan Hindia Belanda pada April 1856.

Tampaknya, pada usia awal 40-an, Prins mulai sakit-sakitan. Pada 1858 dia menggunakan cuti sebagai anggota Raad van Indie selama setengah tahun untuk berobat sekaligus pulang kampung ke Belanda. Selepas cuti berobat, Prins mulai menjabat sebagai wakil presiden sementara Raad van Indie sejak Maret hingga Agustus 1859. Baru pada Januari tahun berikutnya, dia resmi diangkat secara tetap untuk jabatan tadi.

Inilah prestasi puncaknya, dia pernah menjabat gubernur jenderal sementara selama dua periode. Pertama, pada periode 2 September – 19 Oktober 1861, saat Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Mortanges lengser dan menanti peggantinya yang didatangkan dari Belanda, Ludolph Anne Jan Wilt baron Sloet van de Beele. Kedua, pada periode 25 Oktober – 28 Desember 1866, saat Gubernur Jenderal Sloet van den Belle lengser dan menanti penggantinya Pieter Mijer yang juga didatangkan dari Belanda.

Selepas Prins menjabat sebagai gubernur jenderal sementara pada peridoe pertama, Marie Anne Pietermaat, istri Prins, wafat di Semarang pada 17 Juli 1864. Dari perkawinannya yang pertama lahir empat orang putra dan tiga orang putri. Kira-kira dua tahun kemudian, Prins menikah lagi dengan Anna Catharina van der Leeuw pada 10 Maret 1866 di Buitenzorg. Anna merupakan putri pasangan Adrianus van der Leeuw, pengusaha perkebunan kopi di Jawa, dan Cornelia Langewagen. Prins memiliki seorang putri dari pernikahannya yang kedua.

Selama menjabat sebagai gubernur jenderal sementara untuk kedua kalinya, Prins membuat pertama kalinya anggaran belanja Hindia Belanda ditetapkan melalui undang-undang. Prins juga mereorganisasi kementerian administrasi umum, dan mengesahkan peraturan umum pertama untuk jawatan kereta api di Hindia Belanda. Prins membuat peraturan tersebut, namun dia tak menyaksikan pertama kalinya roda-roda kereta api menggelinding di Jawa pada 10 Agustus 1867. Sayang, dia tidak menikmati peradaban kereta api yang mengubah wajah Jawa. Namun, setidaknya, pada Desember 1866, ketika kesehatan Prins mulai memburuk, sambungan telegraf antara Sumatra dan Jawa telah rampung. Prins meninggal di Batavia pada 28 Januari 1867.

Komentar: 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post