04 July 2017

Asal usul pemberian nama Gelora Bung Karno

Suatu pagi sembari minum kopi beberapa orang menteri tampak berkumpul di serambi belakang Istana Merdeka, Jakarta. Di antara mereka adalah Menteri Olahraga Maladi, Menteri Dalam Negeri dr. Soemarno Sosroatmodjo, Menteri Agama Saifuddin Zuhri, serta beberapa pejabat sipil dan militer.

Mereka tengah memperbincangkan nama yang tepat untuk kompleks olahraga yang terletak di Senayan yang disiapkan untuk penyelenggaraan Asian Games IV. Dari sinilah asal usul pemberian nama Gelora Bung Karno di mulai.

Pada awalnya, mereka menyepakati bahwa kompleks olahraga tersebut akan diberinama Pusat Olahraga Bung Karno, tapi Saifuddin tidak setuju.

"Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga." kata Saifuddin dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren. Semua matapun tertuju kepadanya.

Mengapa?” tanya Sukarno.

“Kata ‘pusat’ pada kalimat ‘Pusat Olahraga’ itu kedengarannya kok statis tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga,” jawab Saifuddin.

“Usulkan nama gantinya kalau begitu,” kata Sukarno.

“Nama ‘Gelanggang Olahraga’ leboh cocok dan lebih dinamis,” kata Saifuddin menjelaskan. “Nama Gelanggang Olahraga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno. Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga.”

“Wah, itu nama hebat. Saya setuju!” Sukarno menjabat tangan Saifuddin dengan air muka cerah. Sukarno memerintahkan Maladi untuk mengganti nama Pusat Olahraga Bung Karno menjadi Gelora Bung Karno. Pada 21 Juli 1962, Sukarno meresmikan Gelora Bung Karno yang berkapasitas 110.000 orang.

Di masa Orde Baru dan dalam rangka desukarnoisasi, penguasa Orde Baru mengubah nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Hal tersebut berlangsung cukup lama sampai kemudian tahun 2001 Presiden Abdurahman Wahid mengembalikan nama Gelora Bung Karno.