Kisah sang tuan tanah van Motman

{ advertiser here ]
Seperti daerah lainnya di Indonesia yang pernah ditinggali oleh Belanda, Bogor memiliki banyak warisan unik dari jaman kolonial. Banyak warisan peninggalan Belanda yang masih berdiri dan hingga kini masih digunakan, namun banyak juga sisa-sisa peninggalan yang tidak dikelola dengan baik, diabaikan dengan masa depan yang tidak jelas. 




Salah satu warisan sejarah peninggalan masa lalu yang memiliki sejarah panjang dan meninggalkan banyak aset adalah warisan keluarga van Motman yang salah satunya adalah makam keluarga Van Motman. Makam ini terletak di dusun pilar di desa Cibanteng, Kecamantan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, kurang lebih sekitar 25 Km dari Bogor ke arah Jasinga.


Makam keluarga Van Motman ini bukan termasuk jenis makam secara umumnya, karena di komplek ini berdiri sebuah kubah besar yang dibangun oleh Mr Motman untuk "membaringkan" sisa-sisa anggota keluarganya, jenazah-jenazah ini tidak dikubur dalam tanah tetapi dilestarikan dan dimasukan kedalam kotak kayu dengan penutup kaca.  Itulah sebabnya warisan yang berharga dari Van Motman adalah sebuah makam, satu-satunya yang hanya berada di Bogor dan tidak bakalan ditemukan di tempat lain di Indonesia.

Siapa sebenarnya Van Motman ini ?

Yang pertama tentu saja Van Motman ini adalah nama kepanjangan dari seorang Belanda ( marga ). Orang yang pertama kali datang ke Bogor yang waktu itu masih bernama Buitenzorg adalah Gerrit Willem Casimir Van Motman, yang lahir pada 11 Januari 1773 di Genneperhuis.

  Ia adalah anak bungsu dari keluarga yang sebagian besar anggotanya telah meninggal dunia akibat Tuberkulosis. Karena negaranya mengalami stagnasi akibat invasi Perancis, maka pada usia 17 tahun, GWC mencoba peruntungan bergabung dengan VOC, berlayar ke Hindia Belanda memulai karir sebagai administrator gudang VOC.  Lalu akhirnya di Buitenzorg (nama kota Bogor pada masa Belanda) setelah VOC bangkrut, GWC menjadi tuan tanah di Buitenzorg dengan kepemilikan atas tanahnya yang cukup luas di Kota dan Kabupaten Bogor pada waktu itu ( Buitenzorg ).

Sekitar 12.596 hektar tanah di Nangoeng pada tahun 1880 semuanya dikuasai oleh keluarga van Motman. Jumlah keselurhan tanah yang dimiliki oleh keluarga van Motman di Buitenzorg dan sekitarnya bekumlah total 117.099 hektar, yang meliputi Semplak, Kedong Badak, Roempin, Tjikoleang, Trogong, Dramaga, TJiampea, Djamboe, Nangoeng, Bolang, Djasinga, Podok Gedeh, Pasar Langkap dan ROsa di Gunung Preanger, juga Tjikandi Ilir dan Tjikandi Oedik di Bantam. Tanah-tanah tersebut dibudi dayakan sebagai perkebunan kopi, teh, kina, karet, tebu dan sawah.

Tanah yang berada di wilayah Bogor dan sekitarnya, sebagian besar dimiliki oleh
keluarga van Motman., karena itulah ia menyandang gelar Tuan Tanah
Pada saat hidupnya, ia memiliki rumah di daerah Dramaga yang disebut Groot Dramaga atau Big Dramaga. Disebut Groot Dramaga karena rumah itu ukurannya besar, memiliki 20 kamar. Rumah yang lain terletak di daerah Djamboe. Namun rumahnya yang masih berdiri hingga saat ini hanya yang di Dramaga.

Cateau van Kerkhoven, salah satu trio tuan tanah di Jawa Barat selain Bosca dan van Motman , menggambarkan keindahan Groot Dramaga dalam suratnya kepada anak-anaknya di Belanda, “Rumah Dramaga ini indah, semua marmer putih dan dinding putih, teras depan memiliki pemandangan indah. Dan keseluruhan terasa menghibur. Ada sebuah kolam renang besar di mana air mengalir dengan curah air yang besar dan di sisi lain dibuang melalui sebuah lubang. “

Seorang cucu  van Motman pernah menulis surat kepada saudaranya menggambarkan tentang kecantikan Groot Dramaga, .. Aku bisa menggambar denah keseluruhan dan arsitektur Dramaga (dengan memakai) penutup mata. Aku ingat setiap kamar dengan baik, dan setiap pohon di taman, boengoer dekat lonceng besar, pohon doekoe, rempah-rempah, semak, pala, pakis yang indah dan begonia di pot bunga, kuda-kuda dan kereta. Kuda belang-belang selalu membuat saya kagum dan empat kuda poni melesat begitu cepat sepanjang jalan ….”

Ketika memasuki Groot Dramaga yang sekarang bernama Landhuis dan digunakan sebagai guesthouse sekaligus klub dosen IPB bersama Antoni Holle, salah seorang keluarga van Motman, saya tidak menemukan marmer dan dinding putih, kolam  besar dan taman indah dengan rupa-rupa tanaman seperti yang diceritakan dalam kutipan di atas. 

Landhuis atau Wisma Dramaga, yang terdiri dari 20 kamar tidur ekstra.
Gerrit Willem Casimir membeli Dramaga sekitar 1813.
Sekarang rumah ini dimiliki oleh Institut Pertanian Bogor (IPB)

 Groot Dramaga yang sekarang bentuknya berubah karena telah mengalami beberapa kali renovasi. Hanya langit-langit  dan pintu kamar yang tinggi yang menunjukkan bahwa bangunan itu adalah warisan Belanda

Dramaga dahulu terkenal dengan sebutan Liberia-koffie-aanplantingen atau Perkebunan Kopi Liberia.  Awal mula tanaman yang ditanam setelah GWC menjadi tuan tanah adalah kopi. Karena tidak menguntungkan maka ditanam gula lalu beralih ke tanaman teh. Walaupun reputasi teh sangat baik namun produksi hancur gara-gara terjangkit wabah lalat hitam, lalu akhirnya terakhir di Dramaga ditanamlah pohon karet.


Ketika Pulau Jawa berada dibawah aturan Daendels (1808-1811). GW CAsimir adalah  seorang tuan tanah di sebelah timur dari Bogor, tepatnya di daerah Dramaga, Jambu dan Jasinga. Jika sobat Bogorheritage.net ingin mengetahui lebih banyak mengenai kepemilikan rumah Mr Motman di Afdeling Jambu ( lahan pertanian/perkebunan) silahkan kunjungi situs web www.uwstamboomonline.nl yang menyebutkan bahwa ada empat dari anak-anaknya yang lahir di daerah ini antara 1811-1814.

Sejak tahun 1811, sebagian lahan yang berada di daerah Jambu ini mulai digunakan untuk pemakaman. Saat itu putri GW Casimir yang bernama Maria Henrietta van Motman diberangkatkan dan distirahatkan disini pada bulan Desember 1811, kemudian delapan dari 12 orang anak van Motman dikuburkan di pemakaman keluarga Jambu ini. Diantara kedelapan orang ini, hampir semuanya meninggal pada usia yang sangat muda, yang rata-rata masih berusia balita lebih tepatnya berusia dibawah lima tahun. Hanya satu orang yaitu Petrus Cornelis yang meninggal pada usia tua. Dia meninggal pada usia yang ke 82 tahun. Kemungkinan si Peter Cornelis ini merupakan salah satu keturunan Mr Motman yang dimumikan dibaah kubah makam Jambu ini.

Selain anak-anaknya, juga cucu dan dua mertua van Motman turut dimakamkan disini. Cucu dengan nama yang sama dengan kakeknya ini beristirahat disini pada 2 September 1831 saat ia berusia lima tahun. Sementara putri sahnya, yaitu Jacoba DJiem, yang juga istri dari Petrus Cornelis beristirahat disni pada 14 Agustus 1877, yang lainnya adalah Johanna Maria Lousie Quentin, istri dari Jan Casimir Theodorus van Motman yang meninggal pada 13 September 1855 ketika baru berusia 27 tahun.

Semenjak itulah pemakaman ini diberi nama kuburan Belanda, dengan jumlah hampir mencapai 33 orang yang dimakamkan disekitar kubah makam. Namun hingga kini masih belum diketahui secara pasti siapa saja mereka yang dimakamkan diwilayah ini. Apakah termasuk kerabat dari keluarga Motman atau tidak.

Sementara keberadaan makam sang tuan tanah Dramaga GWC sendiri masih belum jelas dimana lokasi tepatnya. Hanya sebuah kabar yang menyatakan bahwa ia meninggal dunia pada 25 Mei 1821 di Dramaga dan dimakamkan di Jasinga. Apakah ini identik dengan makam yang berada di daerah Jambu, hingga kini tidak ada informasi yang tersedia.

Yang pasti sampai tahun 1965 sisa-sisa dari empat anggota keluarga van Motman ini masih terliha di dalam kota kaca tertutup didalam gedung mausoleum dan sebagaimana kuburan Belanda lainnya, makam ini juga dibangun dengan arsitektur yang indah menggunakan ubin dan marmer untuk batu nisannya serta makamnya.


Luas pemakaman ini adalah 3300m2 yang dikeliling oleh pilar yang kuat dengan sebuah jalan sepanjang 300 m dan lebar 3 meter yang menghubungkan kompleks dengan jalan utama. Terdapat dua pilar yang tinggi dan kokoh yang dibangun di pinggir jalan yang berfungsi sebagai pintu gerbang. Saat ini lokasi tempat berdirinya pilar ini kemudian menjadi sebuah nama dusun yang dikenal dengan Kampung Pilar.
 
Para Penjaga makam van Motman

UCUP SUMARNA



Penjaga makam yang berusia sekitar enam puluhan tahun ini resmi ditunjuk oleh Dewan pelestarian sejarah ( Heritage Preservation Board ) sejak tahun 2011, beliau lahir di Jakara tetapi nenek moyangnya berasal dari Leuwisadeng, Djamboe.

ELLIAS
Dikenal sebagai seorang jagoan yang memiliki kekuatan supranatural, Ellias diangkat oleh Gerrit Willem van Motman

JIPRO
Karena Ellias tidak memiliki anak, maka penjaga makam berikutnya dipegang oleh saudaranya , JIPRO

MUSTAFA
Mustafa ini adalah menantu dari JIPRO

HAJI MUGENI BIN MUSTAFA
Beliau merupakan putra dari Mustafa, Haji Mugeni adalah kakek buyutnya UCUP SUMARNA.

HAJI SUMATRA
Haji Sumatra ini adalah Ayah dari UCUP SUMARNA, beliau melayani keluarga van Motman sejak tahun 1952 hingga 1973, Ia menerima bayaran / gaji dari Keluarga Motam yang tinggal di Dramaga pada waktu itu, namun setelah anak bungsu dari Motman ini, Pauline Elis Laurince Marie meninggalkan Indonesia pada tahun 1958, selama 30 tahun tidak ada seorangpun yang kemudian merawat pemakaman tersebut, akibatnya kubah dan atap-tapnya dibiarkan berjatuhan. Begitu pula dengan banyaknya penjarahan di komplek pemakaman ini yang dimulai dari mengambil marmer, ubin, besi, batu-batu hingga sebagian makam-makam tersebut rata dengan tanah, bahkan mayat-mayatnya pun hilang tidak ada kerangka yang tersisa. Sayang memang karean selama ini tidak ada perhatian ataupun pandangan mata dari pemerintah setempat , padahal sudah jelas kalau wilayah ini juga termasuk salah satu warisan sejarah yang cukup bernilai bagi Bogor pada umumnya.


Jika kita mencermati kubah dari makam van Motman ini, kita akan melihat sebuah tanda (silang) dalam warna awalnya adalah putih namun kini sudah menjadi kehitaman. Arsitekturnya sudah jelas asli Belanda. Bentuk bangunannya menghadap utara-selatan dengang satu-satunya pintu masukberasal dari selatan. Pada masa lalu disitu terdapat sebuah pintu, namun sekarang sudah menjadi tempat terbuka. Pintu masuknya berukuran 2mx1,5m yang diatasnya terdapat tulisan FAM:P.R.v MOTMAN. 


The Mausoleum of Pieter Reinier van Motman
Third Landlord, 1838-1911
 Pada bagian atas dari setiap sisi terdapat bukaan yang dihiasi setengah melingkar . Fungsi mereka ini tidak begitu jelas untuk apa gunanya, apakah untuk penerangan atau semacam ventilasi. Di tengah puncak bangunan ada kubah segi delapan dengan diameter sekitar 1,5 meteran.

Di dalam, ada kamar di kedua sisi timur dan barat dibagi menjadi dua lantai . Di sini adalah di mana empat anggota keluarga Motman meninggal yang muminya disimpan . Sisa-sisa gagang besi masih terlihat.

Makam van Motman tahun 1920 dan lokasi yang sama pada tahun 2011
Banyak grafiti dan coretan tanpa arti di sekitar dindingnya, meski begitu Gaya ornamen dari bangunan ini masih jelas terlihat. Dinding nya memang sudha dikotori oleh Vandalisme. kecuali pada bagian kubahnya. Sebagian besar bangunan-bangunan ini sudah tertutup oleh semak-semak, begitu juga dengan pilar yang digunakan sebagai penjaga kubah. sebuah pemandangan yang menyedihka dari sebuah warisan sejarah...



Sebuah harapan yang tersisa
 
Mengingat keunikan dari bangunan kubah yang didirikan pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 ini, kalau dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah setempat maka akan banyak orang yang berminat mempelajari arsitektur, ornamen dan bahan yang digunakannya.

 Sebenarnya kalau saja ada yang mau mengurus dan membersihkan area pemakaman tersebut, bukan tidak mungkin kalau komplek tersebut dirubah menjadi sebuah Taman Astana van Motman ( Taman Makam van Motman ). Meski berupa komplek pekuburan namun tidak ada yang perlu ditakutkan karena di Bogor sendiri banyak komplek makam Belanda yang menjadi tujuan wisata seperti di Kebun Raya atau tempat lainnya. Yang jelas harus ada perhatian dari pihak terkait dalam hal ini, Pemerintah setempat, pemerintah desa, pemerintah Kabupaten Bogor dan Balai perlindungan Peninggalan Purbakala (BP3) agar komplek makam tersebut tetap ada dan menjadi tujuan wisata serta pendidikan bahkan akan menjadi tujuan wisata bagi warga Belanda yang ingin mendapatkan cerita lebih banyak mengenai nenek moyang mereka, dan hal ini tentu bisa menambah pendapatan daerah dari segi turis dan kunjungan wisata.
Back To Top