Sepenggal kisah Jembatan Merah tempo dulu

Masyarakat Kota Bogor tentulah sudah mengenal Jembatan Merah yang berdiri sejak 1883 pada masa pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Pada masa orde baru, jembatan yang menghubungkan Jln Kapt Muslihat dan Jl Merdeka ini pernah sering sekali berganti-ganti warna. Apalagi pada masa kampanye pemilu tiga partai, warna jembatan ini bisa berubah setiap saat dari warna merah jadi warna hijau atau kuning.

Jembatan merah dibangun melintasi Sungai Cipakancilan. Menurut buku Catatan Sejarah Bogor karangan Alm. Bapak Saleh Dasasminta, Cipakancilan dibuat oleh Kanjeng Aria Natangegara (seorang demang di Kampoeng Baroe) pada tahun 1776. 
 
Tujuan pembuatan sungai ini antara lain untuk mengaliri persawahan di utara Dayeuh Bogor seperti Kebon Pedes, Cilebut sampai Bojong Gede, Depok dan berakhir di Sungai Ciliwung. 
 
 Alur Cipakancilan kemudian dipecah menjadi kanal Cidepit yang pembagian airnya dimulai di daerah yang sekarang menjadi Manterena Lebak.
 
Masih menurut penuturan sesepuh Bogor, lokasi sekitar Jembatan Merah pada pagi hari terutama hari Minggu dan hari-hari besar / liburan menjadi tempat rekreasi bagi penduduk Bogor waktu itu, terutama dari kalangan Belanda dan Eropa. 
 
Bahkan salah satu Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Istana Bogor yaitu Gustaf Willem Baron van Imhoff, sering menyempatkan dirinya melihat kegiatan masyarakat di sekitar jembatan tersebut sembari jalan-jalan berolahraga pagi. 
 
Tuan Baron ini pun selalu menyempatkan diri menikmati jajanan khas Bogor antara lain bubuy ayam, doclang, lontong, tahu goreng setengah matang, goreng kentang dan kerupuk merah yang banyak dijual di kawasan tersebut.
 
Selain sang Gubernur Jenderal, direktur Kebun Raya Bogor Mr Treub pun sering menyempatkan diri untuk mengunjungi Jembatan Merah setelah disibukkan dengan aktivitasnya di laboratorium pirbadinya yang berada di dalam area Kebun Raya Bogor. 
 
Mr Treub berpose di Jembatan Merah
 
 
Selain para petinggi dan pejabat Hindia Belanda, kawasan ini , terutama pada malam hari (malam minggu) ternyata ramai juga dikunjungi oleh para remaja-remaja bule dan priyayi yang dijuluki "Mience". Sebelum mereka berkumpul di tempat hiburan di Societet Hitte (sekarang jadi kawasan perbankan Jl Juanda), para remaja ini akan tak melewatkan waktu untuk berkeliling di sekitar Jembatan Merah sambil menikmati jajanan khas Bogor waktu itu.
 
Air Sungai Cipakancilan yang berada di bawah Jembatan Merah pada waktu itu masih mengalir dengan cukup deras. Bahkan penduduk lokal yang menghuni perkampungan sekitar Jembatan Merah ini seperti Gang Ambi, Gang Texan, Mantarena dan kebon Jahe, sering menangkap ikan di Sungai ini dengan cara dipancing atau menebar jala/bubu.
foto hak cipta (c) Maxime van der laarse @maxvanderlaarse
Di jeram tepat di bawah Jembatan Merah, pada waktu itu memang masih banyak ikan-ikan yang berlompatan dengan gesitnya. Di jeram itu pula ikan-ikan asli Cipakancilan seperti ikan genggehek, lovis, dan tawes mudah didapatkan. 
 
Apabila beruntung, penduduk pribumi bisa menangkap lebih dari 5 ekor ikan dalam sehari. Jumlah yang cukup untuk lauk pauk keluarga. 
 
Menjelang maghrib, kegiatan mencari ikan berakhir dan digantikan dengan aktivitas satwa malam yang masih banyak ditemukan di pinggiran Sungai Cipakancilan seperti musang, ular dan juga kalong-kalong besar dari Kebun RAya yang mencari makanan di pohon-pohon di tebing sekitar Sungai Cipakancilan.
Tebing-tebing yang penuh pepohonan di Sungai CIpakancilan, Jembatan Merah tempo dulu
Air Cipakancilan waktu itu masih sangat jernih, pada tebing kiri dan kanan banyak ditumbuhi pohon durian, rambutan dan limus. Disela-sela semak belukar banyak tersembul buah arbei dengan warnanya yang merah menyala.
 
Apabila musim durian tiba, para penduduk lokal yang mencari ikan akan meluangkan waktunya untuk mencari buah durian yang jatuh. Kadang sambil menunggu ikan menyantap umpan cacing atau masuk ke dalam bubunya, mereka berharap ada buah durian yang jatuh. Biasanya setelah maghrib, para penangkap ikan itu akan pulang membawa ikan tangkapan dan juga durian jatohannya. 
 
Durian dan buah-buahan yang jatuh dengan sendirinya itu memang secara mutlak akan jadi milik/rezeki orang yang menemukannya. Peraturan itu dibuat tanpa tertulis, tapi berjalan dengan sendirinya dan semua orang akan memakluminya, hmm betapa indahnya dan betapa berbeda jauhnya dengan kondisi sekarang, kata-kata mencuri buah tidak dikenal oleh masyarakat pada saat itu. 
 
Suasana damai dan pemandangan arus dan pohon buah-buahan di tebing Cipakancilan sekitar Jembatan Merah kini tinggal kenangan. Tebing-tebing yang dulu hijau oleh pepohonan kini digantikan oleh tumpukan batako dinding rumah dan pagar-pagar beton. Ikan-ikan yang dulu banyak menghuni sungai ini kini digantikan oleh limbah rumah tangga dan sampah para pedagang kaki lima yang tak "mau" tahu aturan. 
 
Kini kemacetan jadi pemandangan sehari-hari di kawasan ini. Jembatan Merah yang dulunya dijadikan ajang rekreasi untuk melepas lelah, kini malah jadi sumber kepenatan yang bisa bikin stress orang yang tidak sabaran.
Jika kita menengok ke bawah Jembatan Merah, akan tidak ada lagi buah-buah durian yang berjatuhan melainkan sekumpulan pria dan wanita yang tidak mempunyai rasa risih, melakukan aktivitas mandi, buang hajat dan mencuci di sungai tersebut. 
 
Jembatan Merah dulu memang sudah lain dengan yang sekarang ... 
 

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close