26 September 2016

Menyusur jejak keberagaman di lembah Salaka

 
"Deep down below us lay a valley of eden,” ucap Scidmore, seorang pelancong terkenal yang berasal dari Inggris, ketiak menyaksikan keindahan pemandangan kaki Gunung Salah seperti tertulis dalam Buitenzorg Kota Terindah di Jawa, Catatan Perjalanan dari Tahun 1860-1930 karya Ahmad Baehaqie. 

Di lembah ini pula terdapat kisah mengenai jejak kehidupan beragam bangsa, termasuk Arab dan Tionghoa.

 lembah Salaka
  
Sampai tahun 1579, hamparan bukit-bukit yang terbentang di kaki Salaka yang diapit oleh Sungai Ciliwung dan Cisadane dan dibelah oleh Cipakancilan terdapat Kerajaan Sunda Galuh yang beribukotakan Pakwan Pajajaran. Namun sejak tahun 1619, di tempat yang terdapat sisa-sisa reruntuhan akibat pembumihangusan oleh Kesultanan Banten, bangsa Eropa, Tionghoa, Arab, dan Sunda itu berdiri sebuah kawasan yang bernama BUITENZORG

Inilah cikal bakal dari Kota Bogor, sebagaimana pernah diutarakan oleh Scidmore, keindahan Buitenzorg tempo doeloe sangat terkenal di kalangan pelancong Eropa. Namun sepertinya Bogor sekarang tidak pantas lagi menyandang gelar sebagai Valley of Eden seperti ucapan Scidmore. Kota Bogor sekarang sudah sangat semrawut dan tidak lagi sejuk. 

Walaupun begitu, masih ada sisa-sisa peninggalan masa lalu yang bisa dinikmati meski terancam sirna, misalnya kawasan Tionghoa di Babakanpasar dan Gudang, Bogor Tengah, dan kawasan Arab di Empang, Bogor Selatan. 
Pulogeulis, Babakanpasar  

Di delta Sungai Ciliwung ini terdapat sebuah wihaya yang bernama Wihara Mahabrahma (Kelenteng Pan Kho Bio) yang dibangun sekitar 1619 - 1743. Wihara ini menjadi tempat ibadah tertua komunitas Tionghoa Bogor. Pada masa Kerajaan, daerah Pulogeulis diduga menjadi tempat pemandian putra-putri Pakwan Pajajaran.

Di dalam wihara ini ada yoni, arca Hindu, patung Kwan Im, tempat dupa yang berbahan logam kuningan, serta batu petilasan Uyut Gebok, Eyang Jayaningrat, Eyang Sakee, Embah Raden Mangun Jaya, Embah Imam, dan Prabu Surya Kencana. 

Sekretaris Wihara Mahabrahma, Candra Kusuma, artefak sepeti yoni, arca hindu, dan batu petilasan ditemukan sebelum kelenteng ini dibangun, sedangkan patung Kwan Im dan tempat dupa setelah kelenteng dibangun.

Seperti dilansir dari National Geographic, keberadaan wihara bukan sekedar menjadi tempat ibadah bagi umat Buddha, Konghucu, dan Tao saja namun kerap dikunjungi para peziaran Sunda Wiwitan, Hindu, dan Islam. 

Di tempat ini pula pernah dilangsungkan tradisi pencucian barongsai di aliran Sungai Ciliwung setiap hari kesembilan (Che Kau) sebelum diarak pada hari ke-15 (Cap Go Mei). Sayangnya tradisi mencuci barongsai belum terlaksana lantaran sungai yang sudah tercemar dan berbau.  

Pasar Baroe

Di kawasan ini banyak berderat rumah-rumah toko dua lantai dengan ornamen kayu dan kaca patri. Banyak dari bangunan-bangunan tersebut yang sudah berumur lebih dari satu abad dan tidak terawat. 

Di daerah ini pula masih bisa dijumpai orang-orang yang menjual celengan, tembikar, anglo, kendil, kenci, piring, dan gelas yang terbuat dari tanah liat. Bahkan masih ada juga sandal bakiak, pengki, besek, baki, serta bakul yang dibuat dari anyaman bambu.

Tepat di belakang Pasar Bogor terdapat sebuah bekas bangunan Kapitan Tionghoa dan Hotel Pasar Baroe yang kondisinya amat sangat menyedihkan. 

Kedua bangunan ini tertutup semak, banyak coretan dan menjadi tempat menyimpan gerobak, alat pemarut kelapa dan juga kandang ternak. Lingkungan sekitarnya pun tak kalah menyedihkan, kotor oleh sampah dan aroma bau yang tidak sedap. 

Padahal menurut budayawan Tionghoa Bogor, Mardi Liem, Passer Baroe dibangun pada tahun 1873 satu masa dengan Hotel Binnenhof (Hotal Salak Heritage) dan Hotel Belleveu (Bogor Trade Mall).  

Pada waktu itu, Hotel Passer Baroe diperuntukkan khusus untuk kaum non Eropa seperti Tionghoa dan Arab, sedangkan Hotel Belleveu dan Binnenhof dikhususkan bagi orang-orang Eropa. Setelah masa kemerdekaan sampai tahun 1966, Hotel Passar Baroe pernah dihuni sejumlah keluarga Angkatan Udara Republik Indonesia. 

Handelstraat (Jalan Suryakencana) 

Jalan yang melintasi kawasan Pasar Bogor dan Suryakencana dulunya bernama Jalan Raya Pos atau De Groote Postweg yang menghubungkan BOMICI (Bogor-Sukabumi-Cianjur). Setelah menjadi kawasan perdagangan yang ramai, Jalan ini berganti nama menjadi Handelstraat atau Jalan Perniagaan. 
Handelstraat
Handelstraat

Berada di seberang pintu gerbang Kebun Raya bogor terdapat Wihara Dhanagun atau dikenal dengan nama Kelenteng Hok Tek Bio. Tempat ibadat ini merupakan tempat kedua yang dibangun komunitas Tionghoa setelah Pan Kho Bio. 

Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, pemukiman di Bogor ditata sedemikian rupa dan disegregasi sesuai warna kulit agar lebih mudah diatur (Wijkenstelsel 1835-1915). Komunitas Tionghoa menempati wilayah kiri kanan Handelstraat di antara Ciliwung dan Cipakancilan. 

Diduga pula karena kebijakan tersebut, sebagian komunitas Tionghoa berpindah dari Pulogeulis ke Handelstraat. Di sepanjang Jalan Perniagaan ini berderet rapat rumah-rumah toko dengan arsitektur yang khas. 

Menurut Mardi Liem, wihara yang berada di utara ibarat kepala naga, sedangkan deretan bangunan yang berada di sepanjang jalan handelstraat adalah badan naga. Setelah kebijakan Wijkenstelsel berakhir, banyak kaum pribumi dan pendatang yang kemudian bermukim di kawasan ini.

Kebijakan diskriminatif Orde Baru yang menekan komunitas Tionghoa membuat sejumlah bangunan berarsitektur Tionghoa dan Indis dibongkar menjadi bangunan modern. Namun, masih ada sejumlah bangunan tua, cukup terawat, dan menjadi benda cagar budaya, seperti rumah Kapitan Tan, rumah keluarga Thung, rumah abu keluarga Thung, dan toko roti Tan Ek Tjoan.

Kawasan Tionghoa bukan sekadar Suryakencana. Tengok kawasan Jalan Roda, Gang Aut, Jalan Pedati, Jalan Ranggagading, dan Jalan Lawangsaketeng di sekitar Suryakencana. Di kawasan perniagaan ini dijual aneka komoditas, makanan-minuman (tradisional atau modern), obat, kosmetik, pakaian, kendaraan, buku, dan cendera mata khas atau keperluan peribadatan bagi komunitas Tionghoa.

Di Lawangsaketeng ada deretan toko yang menjual hasil bumi, terutama ikan asin dan hasil laut yang dikeringkan. Lawangsaketeng diduga sudah ada sejak Pakwan Pajajaran yang berarti gerbang dilipat yang dijaga di luar dan dalam. 

Arab Empang 

Berada di bagian lembah antara Cipakancilan dan Cisadane ada kawasan Arab yang terbentuk seperti kawasan Tionghoa karena kebijakan Wijkenstelsel 1835-1915. Namun, sebelum menjadi kawasan Arab dan bernama Empang, daerah ini bernama Soekaati (Sukahati). Di sinilah pusat pemerintahan Kampung Baru sekaligus cikal bakal Kabupaten Bogor.
soeka ati empang
Tandjakan Empang
 
Menurut budayawan Arab Bogor, Adenan Taufik, sebutan Empang muncul karena Bupati Kampung Baru Demang Wiranata (1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendapa (kini alun-alun). Lama-kelamaan kawasan itu identik dengan sebutan Empang dan menenggelamkan nama Soekaati.

Alun-alun, lanjut Adenan, diduga sudah ada sejak zaman Pakuan Pajajaran. Kala itu, alun-alun merupakan tempat hukuman picis (penyiksaan) terhadap penjahat yang dipertontonkan ke masyarakat agar kejahatan tidak ditiru. Kini, alun-alun itu tidak ubahnya lapangan berumput bergelombang, tidak terawat, dan jadi lahan parkir kendaraan. 
Alun-alun Empang

Di sekelilingnya terdapat tembok berikut kios pedagang makanan dan minuman. Pada saat hari raya menjadi pasar kambing.Di sekitar alun-alun berderet toko perlengkapan ibadah, yakni peci, sorban, sajadah, tasbih, sarung, parfum, rebana, dan kurma. Ada juga rumah makan khas yang menyediakan menu nasi kebuli, gulai, sop, sate kambing, serta kue khas, yakni kamir, ka’at, dan manom. 

Sejumlah bangunan tua yang bisa dilihat di Empang, antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas rumah Bupati Kampung Baru, rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, dan Bendungan Empang. 

Di sini juga ada makam Raden Saleh Sjarif Bustaman, maestro seni lukis era kolonial.Sisa-sisa bangunan khas komunitas Tionghoa dan Arab sudah tinggal sedikit dan tidak semua berdiri di lanskap yang enak dilihat. Bangunan antik, tua, dan yang zaman dulu amat terkenal malah berada di lingkungan yang amburadul dan tidak terawat.

Apakah ini menunjukkan bahwa kita enggan menjadikan Bogor seperti masa Buitenzorg? Padahal, di masa lalu itu, kalangan pelancong amat memuja keindahan kota yang pada tahun 2014 lalu berpenduduk sekitar 1,030,720 jiwa. 

Komentar: 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post